Laman

Minggu, 12 September 2010

PEREMPUAN TELAGA DUKA


Cast:
Nama                                                               Peran
------------------------------------------------------------------------------------------------
Heni                                                                 Narrator 1
Lia Octavia                                                       Narrator 2
Yanuardi                                                          Paijo
Lilyani                                                              Retno (Guretno Ridiansih)
Fiyan Arjun                                                      Widodo (mantan kekasih Retno)
Sutarni                                                              Ponirah (Ibu Paijo)
Lamuna                                                            Subroto (Kepala Sekolah)
Ani                                                                   Sulastri (istri Kepala Sekolah)
Furqon/Ervan                                                   Bejo / nama keren Joe
                                                                        (anak Subroto & Sulastri)
Ayya                                                                Ustadz Abdullah
Aira                                                                  Aini (istri Ustadz Abdullah)
Barida                                                              Supinah / nama keren Vina
                                                                        (anak Ust Abdullah & Aini)
Ria                                                                   Sumiati / nama keren Mita
                                                                        (anak Ust Abdullah & Aini)
Billy Antoro                                                      Riandi (guru/teman seprofesi Paijo)
Echa                                                                 Sri (murid Paijo)
Rina                                                                 Wati (murid Paijo)
Puji                                                                  Suti (murid Paijo)
Nabilah                                                            Atun (murid Paijo)
Bunga                                                               Parinem (murid Paijo)
Character:
                                                                                                                                               
1)      Paijo: lugu, polos, sopan, pendiam, introvert, patuh pada ibu, suka memendam perasaan yang bergejolak, mengaji pada Ustadz Abdullah, pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, anak laki-laki satu-satunya
2)      Retno: periang, ceria, friendly, tergantung pada Widodo, tetapi berubah seratus delapan puluh derajat ketika Widodo menghilang; kosong, separuh jiwanya hilang, bengong, suka termenung-menung di tepi telaga
3)      Widodo: romantis, penyayang, care, sering menasehati Retno
4)      Ponirah: cerewet, bersuara keras, kata-kata yang menusuk, terlalu sayang pada Paijo, melarang Paijo pergi merantau
5)      Subroto: sahabat almarhum ayah Paijo, lulusan dari kota yang menjadi kepala sekolah, karena alm ayah Paijo sahabatnya, maka ia merekrut Paijo menjadi guru dengan pendidikan Paijo yang hanya setingkat SMA, mendukung Ponirah dengan alasan Paijo anak laki-laki satu-satunya yang harus menjaga ibunya
6)      Sulastri: cerewet, gemar ngerumpi, teman ngerumpi Ponirah, gemar membanggakan anaknya yang banyak uang setelah pergi merantau, mendorong Ponirah dengan sangat keras agar mengijinkan Paijo pergi merantau
7)      Bejo: teman Paijo dari kecil, bergaya norak ala kota, suka mengatakan hal-hal yang hiperbola, nyeleneh, senga, sok bergaya, kasar, suka menyakiti Paijo dengan kata-kata kasar, sombong
8)      Ustadz Abdullah: guru mengaji di musholla tempat biasa Paijo shalat, suka kotbah dan menceramahi serta menggurui, menjadi tempat curhat Paijo karena Paijo tidak punya orang yang dianggap pas sebagai tempat curhat
9)      Aini: tidak begitu cerewet, teman ngerumpi Ponirah & Sulastri, suka menceramahi teman-teman ngerumpinya karena ia sering mendengar ceramah suaminya, jadi ia hapal luar kepala, berusaha tidak memihak pada Ponirah atau Sulastri dan sangat membangga-banggakan suaminya yang seorang ustadz
10)  Supinah & Sumiati: teman Paijo dari kecil, bergaya norak asal kota, sok, gaul, suka menggosip dan mengata-ngatai Paijo yang pendiam, mereka merantau ke kota menjadi PSK di sana tanpa diketahui orang tuanya
11)  Riandi: seorang guru PNS yang sedang menjalani masa dinas 2 tahun di desa terpencil tempat tinggal Paijo, bete dan bosan dengan suasana desa, sering curhat tentang bete-nya pada Paijo, mendorong Paijo dengan halus agar merantau
12)  Sri: murid yang gaul, suka meminta perhatian Paijo dan suka bikin masalah di kelas (trouble maker)
13)  Wati: sahabat Sri yang mengikuti saja apa-apa yang dilakukan dan diperintahkan Sri
14)  Suti: murid yang kutu buku dan pendiam, tapi diam-diam ia mengidolakan Paijo
15)  Atun: murid Paijo yang anggota Rohis dan taat beribadah
16)  Parinem: murid Paijo yang ingin tahunya besar dan banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu ditanyakan pada Paijo sehingga Paijo sering kehabisan kesabaran bila menghadapinya
BABAK I
Tentang Sepenggal Kisah Cinta Retno Sehingga Telaga Itu Terkenal Sebagai Telaga Duka
Scene 1:
(Narrator mendeskripsikan suasana di tepi telaga duka yang tenang dn hening. Hanya ada suara gemericik air dan kicau burung. Saat Retno dan Widodo biasa bertemu di sana)
Narrator 1        : Di punggung ngarai sebuah gunung, di mana burung-burung masih gemar bernyanyi, angin sejuk membelai dedaunan yang rimbun, hening, tenang. Hanya gemericik air yang jernih yang terdengar, terdapat sebuah telaga, dengan bebatuan dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh di sekeliling tepiannya. Di bawah langit senja yang kian memerah, menjadi saksi bisu dua insan yang sedang mengurai cinta.
(Dilanjutkan dengan dialog antara Retno & Widodo yang menggambarkan karakter Widodo yang romantis, penyayang, care dan sering menasehati Retno, sehingga Retno menjadi merasa tergantung padanya) – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
(Retno dan Widodo berdiri di pinggir telaga)
Widodo            : (tersenyum gembira) Duhai bidadariku, kau tampak cantik sekali sore ini. Aku begitu merindukanmu. Siang, malam, bahkan mentaripun enggan beranjak ke peraduannya, ingin berlama-lama menatap wajahmu yang jelita dan anginpun ingin membelai rambutmu yang hitam.
Retno               :  (tersenyum gembira) Oh Kakanda Widodo, engkaupun terlihat gagah sore ini. Aku juga sangat menantikan saat-saat berjumpa denganmu. Meniti hari, bersama-sama menatap merahnya langit senja, hanya kita berdua, disaksikan oleh nyanyian burung-burung dan sejuknya air telaga ini. Aku begitu bahagia…
Widodo            : (bingung) Akupun demikian, Dik Retno. Tetapi, mengapa matamu terlihat sembab? Apa yang terjadi? Apakah kau habis menangis?
Retno               : (tersipu malu) Ah Kakanda Widodo, aku menangis bukan karenamu. Tetapi karena begitu merindukanmu. Terutama di malam-malam dingin yang tak berawan, bintang enggan menari dengan rembulan. Aku sungguh kesepian tanpamu. Aku selalu teringat padamu. Aku sungguh tak sabar ingin berjumpa denganmu. Aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak mau membagimu dengan seorangpun.
Widodo            : (memegang kedua bahu Retno)Dik Retno, bersabarlah. Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Bukankah aku selalu datang menjumpaimu di sini? Dan ingatlah selalu pada Sang Maha Kasih, karena Ia-lah kita dapat selalu berjumpa di sini.
Retno               : (Memegang tangan Widodo)Ya benar, Kakanda Widodo. Kau benar. Kau selalu benar. Tetapi aku seringkali ingin memutar dunia ini lebih cepat sehingga waktu berpacu mengalahkan segala rasa dan membawaku ke senja dimana aku dapat bertemu denganmu. Dan aku berharap waktu berhenti selamanya, saat aku bersamamu.
Widodo            : (tersenyum) Sabar dan ikhlaslah dalam menjalani hari. Ikhlas menunggu saat-saat bahagia kan menjelang. Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis lagi?
Retno               : (meletakkan tangan kanan di dada) Aku berjanji, Kakanda. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku.
Widodo            : Aku sayang padamu, Dik Retno. Terimalah bunga mawar ini sebagai tanda kasihku yang tulus padamu. (Widodo memberikan bunga mawar merah pada Retno)
(mereka berdua, duduk bersisian di tepi telaga)
Narrator 1        : Di atas bebatuan, di bawah pohon beranting dan berdaun lebat, bersama-sama menyaksikan ratu malam menurunkan tirai hitamnya, menutupi langit senja yang kian memudar bersama mentari.
Scene 2:
(Menceritakan tentang Widodo dan Retno yang berjanji untuk bertemu di telaga duka pada senja keesokan harinya.  – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
Widodo            : Dik Retno, tak terasa sudah hampir seribu senja kita habiskan bersama di tepi telaga ini. Apakah kau tidak bosan duduk di sini bersamaku?
Retno               : (bingung) Bosan? Bagaimana mungkin aku bosan bila bersamamu, Kanda? Lihatlah rumpun-rumpun bunga yang meliuk lembut ditiup angin, langit merah mengarak senja, burung-burung terbang rendah kembali ke sarangnya,  dan permukaan air telaga ini tampak begitu jernih dan tenang. Setenang hatiku bila bersamamu.
Widodo            : Lega hatiku mendengarnya. Dik Retno, apakah engkau bersedia untuk menungguku di sini esok hari? Aku hendak membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu.
Retno               : (tersenyum penuh semangat)Tentu saja, Kanda. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku. Aku akan menunggumu di sini, esok hari, kala cakrawala mulai membiaskan merah saganya, kala mentari mulai mengatupkan kelopak matanya, hingga Kanda datang menemuiku di sini.
Widodo            : (memohon) Dan maukah engkau berdandan yang paling cantik untukku? Aku sangat suka bila melihatmu mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat, dengan gelang di pergelangan tanganmu. Dan aku sangat suka bila engkau mengurai rambut panjangmu yang hitam.
Retno               : (tersenyum penuh semangat) Tentu saja, Kanda. Apapun yang kau minta akan aku turuti. Kata-katamu adalah titah bagiku.
Widodo            : (serius) Dan kau menungguku di sini sampai aku datang?
Retno               : (sambil memandangi telaga) Aku akan selalu menunggumu di sini Kanda. Hingga butir-butir pasir tidak lagi menyentuh pantai. (menghadap ke Widodo) Apa yang akan engkau bicarakan padaku, Kanda?
Widodo            : Sabar, Dik Retno. Tunggulah hingga esok senja menjelang. Kau akan mengetahuinya. Sesuatu hal yang akan mengubah masa depanmu untuk selamanya.
Scene 3: 
(Pada senja esok harinya, Retno datang ke telaga duka dengan berdandan rapi, menunggu kedatangan Widodo di tepi telaga, tetapi Widodo tidak datang-datang. Retno duduk di tepi telaga hingga malam tiba.
Retno               : (lelah) Duhai kekasihku tercinta, di manakah engkau berada sekarang? Aku sudah duduk menunggumu di sini, di tepi telaga ini. Aku menunggumu datang untuk mendengarmu mengatakan hal penting itu. Lihatlah, aku sudah mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat kesukaanmu. Rambutkupun sudah tergerai mewangi, hingga kupu-kupu beterbangan dan kunang-kunang menari di sekitarku, dan senjapun tersenyum menatapku. Tetapi… engkau belum datang juga….
Narator1 : Senja esok harinya
Narrator 1        : Senja telah kembali memeah di ufuk barat, menyapa insan yang tengah menunggu cinta
Retno               : (duduk-berdiri-duduk di atas batu) Duhai Kanda Widodo… di manakah engkau berada? Mengapa hingga kini engkau tidak datang-datang juga? Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga engkau tidak lagi datang menemuiku? Aku selalu menuruti kata-katamu. Kata-katamu adalah titah bagiku. Engkau berada di mana?
Narator 1 : Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja tak bosan-bosannya datang ke haribaan dunia. Entah kehadirannya diharapkan atau tidak, ia selalu setia menghampiri dan menyelimuti buana dengan selendang merahnya. Namun, bukan senja yang ditunggu, melainkan kedatangan cinta sang kekasih.
Retno               : (menangis sambil duduk di atas batu) Kanda… Engkau ada di mana sekarang? Aku begitu merindukanmu… Aku ingin bersamamu… mendengar suara lembutmu… melihat senyummu … Kemanakah engkau, Kanda??? Engkau ke manaaaa???
Narator 1: Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja kembali datang. Datang membawa asa. Pergi membawa rindu. Dan malam menghias dengan putus asa dan air mata.
Retno               : ( Retno duduk terbengong-bengong)  Kanda Widodo, sudah hampir seratus senja telah berlalu. Daun-daun menjadi kering dan berguguran ke tanah, nyanyian burung-burung terdengar serak, angin bertiup sangat dingin, membekukan hatiku, yang kian membiru, di dalam rindu. Dan telaga ini, Telaga Dukaku, menjadi saksi bisu, kerinduan hatiku, padamu, kekasihku… 
Narrator 1        : Sepi membalutnya dalam kesunyian yang abadi. Di dalam penantian yang tiada berujung. Sepi yang melebur dalam rindu. Rindu yang beku. Membekukan segala rasa, menghempaskan segala asa….
BABAK II
Tentang kehidupan Paijo sehingga ia ingin bunuh diri di telaga duka
Scene 1:
(Menceritakan mengenai kondisi psikologis Paijo yang mendapat tekanan dari lingkungannya) – Narrator dalam bentuk puisi
Narrator 2        : Di sisi lain ngarai itu, di punggung gunung yang sama, di bawah langit senja yang sama, laki-laki muda merajut hari, di dalam dunia yang jarang tersenyum padanya. Sepenuh hati menahan rasa, akan asa dan angan-angan yang terbuang. Akan mimpi yang tak pernah menjadi miliknya. Tak dapat banyak berharap. Dunia tidak memberi banyak tempat luang di dalam keberadaannya. Mengiris, menyayat perasaan. Hingga ia dekap segala luka yang bercucuran mengalir dari hati seputih kertas.
Narator: membuat puisi tentang tekanan-tekanan yang sangat menghimpitnya hingga terbawa tidur (belum dibuat)
Narrator 2        : tak kuasa hati menanggung, beban jiwa yang kian menghimpit. Hari-hari kering, bahkan mimpipun berbunga bangkai, terus mengejarnya hingga ke ujung waktu.
(Narator: menjelaskan siapa tokoh Ponirah)
Narrator 2        : Dalam hangatnya belaian dan kasih sayang ibu, tercurah pada permata hati satu-satunya, setelah belahan jiwa telah lama berpulang pada Sang Cinta. Mendekap erat buah hati, walau kadang ia lupa, buah hati tercinta telah beranjak dewasa. Cinta seorang ibu, yang mengalahkan dalamnya samudera, luasnya jagad raya dan tingginya cakrawala.
Ponirah : (menyiapkan sarapan) Le! Ayo sarapan!
Paijo     : (langkah tak bersemangat menuju meja makan sambil membawa tas kerjanya) Bu, saya    ingin ke kota. Ingin mengadu nasib. Siapa tahu hidup kita bisa lebih baik. Lihat teman-teman SMA-ku. Mereka sudah bisa mengangkat kehidupan keluarganya.
Ponirah : (sambil duduk) Le, bukan ibu nggak kasih. Ibu hargai niat baikmu...,tapi ibu nggak ingin kamu seperti Bejo, Supinah atau Sumiati. Gaya mereka berlebihan.
Paijo     : (menggaruk kepala yang tidak gatal)Tapi Bu...
Ponirah : (meletakkan gelas di meja)Sudahlah! Kamu kowe tega meninggalkan ibu sendiri di desa?
Paijo     : (memohon) Bukan begitu Bu...
Ponirah : (marah)Ya sudah di desa saja! Tugasmu banyak di desa ini! Menjaga ibu untuk ayahmu! Membalas budi baik pak Subroto yang telah memberimu pekerjaan di sekolahnya Meningkatkan kecerdasan anak-anak di desa ini! Membangun desa ini!
(Paijo kembali posisi tidur)
Scene 2:
Narator: mejelaskan siapa tokoh Bejo, Supinah dan Sumiati.
Narrator 2        : Sahabat, apakah Sahabat yang dulunya pernah mewarnai jalan bersama-sama, tertawa dan menangis bersama, tetapi setelah pernah terpisah jarak dan waktu, seakan menjadi orang asing yang tak bisa dikenali lagi
(Bejo, Supinah, dan Sumiati bertemu di jalan besar)
Bejo     : Cie...Pinah, ponsel baru nih!
Supinah : (memainkan ponsel di depan wajahnya) Tentu saja baru! Hidup gua kan makmur. Bentar-bentar! Lo panggil gua apa?Pinah! Kampung banget! Nama gua sudah ganti jadi Vina! Ingat baik-baik di otak lo yang paling waras!
Bejo : Maaf deh Vina! (menoleh ke arah Sumiati) lo ganti nama juga?
Sumiati : Ya iya lah! Lo pikir? Kalo pekerjaan gua pembantu, gak ganti nama sih pantas!
Bejo : Trus apa?
Sumiati : (kesal) Panggil gua Mita! Jangan sampai...
(Paijo menuju sekolah sambil membawa tas dan bertemu mereka bertiga di tengah perjalanannya)
Paijo : (kaget) Apa kabar?
Bejo :  Baik!
Paijo : (Paijo memperhatikan baju Bejo) Wah, Bejo keren banget ya..!
Bejo : (kesal) Gila lo ya! Tampang keren gini masih aja lo panggil Bejo. Sudah ganti jadi Joe! Ingat itu!
Supinah : (mencibir) Mo kemana Pai?
Paijo : (malu-malu) Ke sekolah
Sumiati : (mencibir) Masih ngajar Pai?
Paijo : Iya.
Bejo : Masih betah hidup di desa? Memang gak punya rencana ke kota? Kayak kita ini! Emang lo gak ingin membahagiakanibu dan diri sendiri dengan berlimpah materi? Jakarta adalah jawabannya!
Supinah :  betul tuh Pai! Gua heran, lo katanya pintar, tapi kenapa untuk pilihan yang satu ini bodoh banget!
Sumiati : gua yakin dengan kepintaran yang lo miliki dalam beberapa bulan sudah dapat mengumpulkan uang banyak.
Paijo : (kepala tertunduk) Saya ingin...
Bejo : (menyela) Ya sudah! Ayo ke Jakarta! Apa butuh bantuan?
Paijo : (menghindar sambil melihat jam tangannya) Maaf, saya harus ke sekolah. Ntar terlambat!
(Paijo kembali tidur)
                                                                                                                      
Scene 3:
Narator : menjelaskan siapa tokoh Riandi.
Narrator 2        : Resah, gelisah, saat jiwa terpenjara di tempat yang tidak disukai, tempat yang tidak semestinya. Hasrat ingin segera pergi meninggalkan pegunungan nan asri, meninggalkan tawa riang anak-anak desa yang polos dan lugu. Namun apa daya, kaki sudah terantai pada secarik perjanjian, yang takkan bisa diubah.
(Riandi masuk kamar Paijo)
Riandi : (duduk di sisi tempat tidur Paijo) Lemes banget Pak!
Paijo : (membuka matanya dan duduk di tempat tidur) Eh, pak Riandi.
Riandi : (sedih) Waktu di desa terasa berjalan sangat lambat. Kalau tau jadi PNS gak enak kayak begini...saya nggak akan ambil. Lebih baik jadi guru ke rumah-rumah di Jakarta.
Paijo : (polos) Bukankah Bapak sudah melakukannya?
Riandi : Memang! Tapi, di desa bayarannya kecil. Pake singkong, pisang, ubi....sudah bosan! (diam sejenak sambil wajahnya mendongak ke atas) Coba kalau di Jakarta, sekali datang dibayar Rp 50000,- setiap hari bisa makan enak
(Paijo tersenyum getir)
Riandi : Paijo kamu pintar! Sayang, kalau kamu habiskan di desa terpencil ini! Saya yakin jika ke Jakarta, kamu bisa lebih hebat dari sekarang ini
(Paijo makin tertunduk dengan lesu lalu kembali tidur)
Scene 4:
Narator : menjelaskan tokoh Sri, Atun, Parinem, Wati, dan Suti.
Narrator 2        : Gadis-gadis muda, berkerumun bak kupu-kupu di taman bunga, penuh semangat, penuh gairah, di masa muda nan cemerlang, tak sabar ingin segera memenuhi pundi jiwa dengan ilmu. Mimpi dan asa berbaur. Tunas muda yang tengah merekah.
(Sri, Atun, Parinem, Wati, dan Suti masuk ke kamar Paijo)
Sri : (senyum) Siang Pak!
Paijo : (senyum terpaksa) Siang anak-anak!
Parinem : (mendekati Paijo) Para Guru mngatakan, “Bapak sakit”. Bener?
Paijo : (bingung) Ah, tidak!
Sri : (lega) Baguslah kalo Bapak baik-baik saja!
Parinem : Pak, kami boleh tanya sesuatu gak?
Paijo : (terpaksa senyum) Tentu saja boleh
Parinem : Bener gak sih Pak kalo hidup di Jakarta enak?
Sri : (manja, memegang lengan baju Paijo) Bener gak sih Pak? Setelah selesai sekolah, orang tua saya menyuruh saya ke Jakarta. Biar bisa bantu adik-adik. Maksudnya ibu, sekalian dapat jodoh orang kota gitu
Atun : (menepuk bahu Sri) Yang sopan bicaranya!
Suti : Biarkan pak Paijo berbicara!
Paijo : (berusaha tersenyum) Tentu saja enak! Katanya, jadi pemulung saja bisa kaya.
Parinem : (penasaran) Trus kenapa Bapak masih di desa?
(bersamaan Atun, Suti, Sri, dan Wati memukul tubuh Parinem)
Parimen : (kesal sambil mengelus-elus lengannya) Sakit!
                                   
Narator :  menjelaskan tentang kepala sekolah.
Narrator 2        : Persahabatan lama jadi jaminan, memberi pekerjaan bagi keturunan sang sahabat. Karena kasihan atau karena budi yang perlahan-lahan memudar seiring berlarinya waktu?
(Subroto masuk ke kamar Paijo)
Subroto : (penasaran) Ada apa ini?
(Sri, Parinem, Atun, Wati, Suti, dan Paijo terdiam)
(semua murid pergi tergesa-gesa)
Subroto : (merangkul pundak Paijo) Sudahlah jangan kamu dengarkan perkataan mereka. Omongan anak-anak! Tempatmu di sini! Membangun desa ini. Kamu tahu alasanku mempekerjakan kamu di sekolah ini meski kamu bukan lulusan pendidikan guru?
(Paijo terdiam sambil memandang Subroto dengan pandangan bingung)
Subroto : Bapakmu minta agar aku membantunya menjaga keluarganya. Ia ingin kamu tetap di desa. Menjaga ibumu...hanya kamu anak mereka.
Paijo : Tapi Bejo...
Subroto : Ah! Bejo memang susah di atur. Saya juga inginya ia jadi guru saja, tapi ... ia ingin ke Jakarta. Entah kerja apa di sana. Kalau di tanya selalu saja menghindar. (tertunduk sebentar) kamu dilahirkan untuk desa ini.
(Paijo kembali tidur di tempat tidurnya)
Scene 5:
Narator : menjelaskan tokoh Sulastri dan Aini.
Narrator 2        : Seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya bukan berarti kebijaksanaan dan pemahaman akan arti kehidupan juga semakin bertambah. Bukankah mereka yang pandai adalah mereka yang mengaku dirinya bodoh, daripada mereka yang mengaku pintar padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa?
(Ponirah sedang ngobrol dengan Sulastri dan Aini, sedangkan Paijo memandangi mereka dari kejauhan)
Sulastri : Lagi sibuk Yu?
Ponirah : (mendongakkan wajah sambil tersenyum lebar) Eh, Yu Sulastri dan Yu Aini. Darimana mau kemana?
Aini : (mengeluarkan bungkusan) Saya ingin kasih ini. Oleh-oleh dari anak-anak saya.
Ponirah : (menerima) terima kasih! Sukses ya di Jakarta?
Aini : Alhamdulillah Yu! Bawa banyak barang-barang. Trus bisa kasih saya uang lagi.
Ponirah : (tersenyum) Wah, senang dong! Kerja apa di Jakarta?
Aini : (bingung) katanya bagian jasa.
Ponirah : (penasaran) Jasa apa?
Aini : Aduh! Saya lupa tanya. Pasti kerjaannya halal la! Kan sejak kecil diberi ilmu agama yang baik oleh bapaknya. Gak mungkin mereka terjerumus!
Ponirah: (kesal. Lalu mengalihkan ke Sulastri) Gimana kabar Bejo?
Sulastri : (tersenyum) Baik Yu! Sekarang dia sudah bisa membelikan saya motor.
Ponirah : (kesal) Mana motornya? Kok nggak dipakai?
Sulastri : (tersipu malu) Belum bisa naik motor. (sombong) Tapi, itu nggak penting Yu. Yang penting Bejo mampu belikan saya motor. Hebat ya anak saya?
Ponirah : (kesal) Iya, hebat!
Sulastri : Gimana kabar Paijo? Nggak ada niata mengikuti jejak Bejo? Sayang kan wong lanang di rumah saja.
Ponirah : Dia temani saya di sini. Lagipula saya tidak ingin Paijo jadi orang yang berlebihan.
Sulastri : (bingung) Berlebihan? Maksud Yu?
Ponirah : Biasa, kalau baru pulang dari kota suka pake barang-barang mewah yang sebenarnya belum di butuhkan untuk kehidupan di desa. 
Sulastri : (kesal) Kalau kita punya kenapa nggak! Tapi... tujuan Bejo ke kota untuk belajar hidup mandiri.
Ponirah : Setahu saya mandiri seseorang nggak bisa dilihat dari keberadaan dia hidup, tapi apa yang dilakukan untuk hidup.
Aini : (tangan kiri memegang bahu kanan Sulastri dan tangan kanan memegang bahu Ponirah) Sudahlah! Tiap orang punya jalannya masing-masing. Nggak salah Bejo belajar mandiri di kota dan nggak salah juga Paijo tetap di desa.
(Paijo sedih mendengar ucpan mereka. Lalu segera kembali tidur)
Narrator 2        : Hari demi hari berwarna kelabu. Menahan kekesalan yang kian menggigit. Ingin rasanya memberontak, memalingkan jiwa rapuhnya ke dalam masa dan lembar-lembar kertas kehidupan yang kian menguning. Hati ini kian memberontak. Menggedor-gedor jiwa. Ingin keluar. Ingin menjerit. Melengking. Dan pergi. Sejauh mungkin. Meninggalkan tawa renyah dunia yang terdengar kian sengau dan sumbang. Kemanakah kan dibawa hati yang kian terpenjara?
BABAK III
Awal Paijo bertemu Retno hingga saling berkirim surat
Scene 1:
Narator : menjelaskan tokoh ustadz.
Narrator 1        : Bilakah  seorang guru, disebut guru, apabila ia dilebihkan sedikit ilmu, dilebihkan sedikit derajat, dilebihkan sedikit kedudukan, daripada hamba yang lain? Nikmatkah itu? Ataukah ujian?
(Ustadz masuk kamar ketika Paijo sedang bengong di atas tempat tidurnya)
Ustadz : (mendekati Paijo) Kamu kenapa? Bapak liat kamu murung terus!
Paijo : (tersenyum terpaksa) Ah, tidak ada apa-apa.
Ustadz : (penasaran) kamu bisa bohongi semua orang, tapi tidak saya. Ceritakanlah, siapa tahu saya bisa bantu.
(Paijo memandang ragu pada Ustadz)
Ustadz : (memaksa) Ngomong saja! Rahasia terjamin!
Paijo : (bingung) Pak, dimana kah seorang Pria seharusnya berada?
Ustadz : (bingung) Di depan! Menjadi pemimpin!
Paijo : (bingung) Lalu apa yang harus dipilih pemimpin itu jika dihadapkan dua pilihan. Nama baik atau bakti pada orang tua.
Ustadz : (bingung) Mmm...pilihan yang sulit. Kamu hanya perlu merenungkan. Saya yakin kamu bisa menemukan jawabannya. Mulai sekarang lebih dekatkan diri pada Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu! Pelajari Al Qur’an dan rajinlah bangun malam!
(azan)
Ustadz : (berdiri) Ayo kita Sholat! Sudah masuk waktu sholat!
Paijo : (menengadahkan wajahnya dengan raut bingung) Baik!
Scene 2:
(Monolog puisi – Paijo pulang dari musholla di senja hari. Berjalan termangu-mangu menuju telaga)
Paijo                : (bingung) Siapakah yang dapat mendengar teriakan jiwaku? Yang tengah menjerit-jerit di dalam ruang kalbuku? Kemanakah akan kubawa segala gundahku? Apakah dapat kutenggelamkan bersama sinar merah matahari? Jauh ke dalam telaga duka yang sunyi? Atau terbang dibawa angin yang bertiup dingin? Lepas… Bebas… Menjauh menuju senja???
(Paijo hendak menceburkan diri ke dalam telaga, tapi ia melihat Retno yang duduk di seberang telaga)
Paijo                : (penasaran) Siapakah dia? Apa yang ia pandang? Apakah ia terlena pada jernihnya air telaga duka ini? Telaga dukaku yang hendak menelan semua sepiku. Apakah ia sama kesepiannya seperti aku? Siapakah namanya? Dan kenapa ia duduk di sana? Di tepi telaga tanpa melakukan apa-apa? Hanya menatap senja yang kian memerah? Ya Tuhan, katakanlah padaku siapa dia?
Narator : Keesokan senja.
Narrator 1        :  Hari telah berganti. Waktu terus berdentang. Mengganti seribu kisah, memupus sejuta lara dan cairkan rindu yang kian membiru.
Paijo                : (Paijo kembali datang ke telaga itu, mengintip dari balik rumpun bambu dan alang-alang) Wahai telaga duka, tempatku meleburkan gelisah tanpa bekas, hanyut tersedot nyanyian kupu-kupu. Rasa ini telah berbunga. Bunga cinta yang mendatangkan pelangi berjuta rasa. Bongkahan penghapus segala lara di dalam jiwa. Engkau, engkau perempuan di seberang sana, engkau yang datang dan pergi bersama senja, kau warnai hatiku yang merana. Mengapa setiap sore engkau duduk di tepi telaga itu?
Scene 3:
Opening oleh monolog puisi Retno yang menanti Widodo dan monolog-monolog puisi Paijo yang jatuh cinta pad Retno yang membuat ia tiap sore ke telaga dan kemudian mereka saling berkirim surat
Retno               :  Senja ini, samakah seperti kemarin? Atau kemarinnya lagi? Atau kemarin dan kemarinnya lagi? Air di telaga ini masih jernih, alang-alang itu masih tumbuh di sekitar telaga, dan daun-daun kian berguguran, berserak di bawah kakiku yang tanpa alas. Kemanakah dapat kulabuhkan penantian ini? Bilakah alam berbaik hati membalikkan telapak tangannya untukku, memundurkan jarum jam hingga aku kembali ke masa itu? Masa-masa bahagia penuh cinta? Penuh senyum dan cahaya? Tahukah engkau, Kanda, aku masih di sini… Menunggu kedatanganmu di sini… Kebayaku sudah tidak putih lagi… Cokelat kini warnanya… Kain lurikku bukan lagi cokelat… Hitam kini warnanya…
Paijo menatap Retno dari balik alang-alang di seberang telaga duka
Paijo                : Perempuan…Siapakah engkau? Mengapa dengan menatap wajahmu yang cantik dibias merah senja, merekahkan segala rasa di dalam dada? Menghilangkan resah dan gelisah? Tuhan… sungguh aku tidak menyangka… Bertemu dengannya di sini, saat hatiku meniti tepian keputus-asaan, Kau lemparkan bingkisan kejutan ke dalam pangkuanku, Ya Tuhan… Manis… Semanis madu… Berbungkus merah dan berpita biru… Merdu… Semerdu nyanyian burung-burung hinggap di pundaknya… Cinta… Mengapa tiap sore engkau selalu duduk di tepi telaga itu? Dengan apakah aku dapat mengetahui siapa dirimu?
Paijo memberanikan diri mengirim surat pada Retno, dilanjutkan dengan surat menyurat antara Paijo dan Retno (dialog surat-surat ditulis oleh Mbak Lily & Mas Adi, ditutup dengan surat Paijo yang menyatakan cinta pada Retno)
Surat Paijo 1:
Kepada engkau yang termenung di telaga ini, aku selalu melihatmu kala senja hari di sini. Yang membuat dirimu terlihat lebih indah dari semuanya. Kau bagai mentari senja nan indah, seindah sore ini. Aku ingin mengenalmu. Mengenal tawa dan senyummu. Kelakarmu, tangismu dan bahagiamu.
Duhai engkau, biarkan aku sedikit tahu banyak tentangmu. Sampai aku tak terbelenggu dengan rasa penasaranku. Tolong, janganbiarkan aku menunggu mengenalmu lebih lama lagi.
Ttd
Paijo
Surat Retno 1:
Siapakah engkau? Di manakah gerangan dirimu berada? Dari tepi telaga ini, aku tak dapat menangkap sosokmu. Betapa beruntungnya engkau masih bisa melihat indahnya mentari senja. Karena bagiku, langit senja ini semerah hatiku. Paijo... kau boleh panggil aku Retno...
Ttd
Retno
Surat Paijo 2:
Aku tahu kini, retno namamu. Nama itulah yang membuatku menjadi penasaran. Membuatku seolah tak ingin mengenal orang lain selain dirimu. Jika boleh aku tahu, mengapa kau selalu bersemayam di senja hari? Di mana kau saat mentari bersinar atau kala langit berselimut bintang? Aku ingin melihatmu di setiap waktuku jika akubisa. Namun senja membatasiku. Retno, aku senang bisa berkenalan denganmu.
Ttd
 Paijo
Surat Retno 2:
Duhai Paijo... tahukah engkau? Senja ini adalah haribaanku. Telaga ini adalah altar atas dukaku. Mentari dan rembulan tak ebrarti lagi. Karena siang malamku tlah terkubur bersama asa. Dan engkau, Paijo, apa yang membuatmu datang ke telaga ini? Apa yang merunut langkahmu hingga terdampar di senja ini?
Ttd,
Retno
Surat Paijo 3:
Retno... Sebenarnya, aku memiliki sebuah keinginan. Hasratku untuk dapat terbang jauh dari sini. Bagai burung, aku ingin bebas. Ngin kulihat segala indahnya lintangd an bujur bumi. Ingin kujamah segala sakit yang mungkin ada di belahan kutub sana. Ingin kutorehkan sejarah hidupku pada delapan penjuru mata angin. Namun... Seseorang menentangku. Yang pada telapak kakiknya lah surgaku berada. Yang dengan darahnyalah aku hidup. Retno... Aku hanya ingin hidupku, apa itu salah? Bila hidupku bukan lagi milikku, lantas untuk apa lagi aku ada di dunia?
Surat Retno 3:
Jangan pernah berfikir seperti itu...ersabarlah, Paijo... Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Dan ingatlah selalu kepada Sang Maha Kasih. Karena Dia-lah kita bisa bertemu di sini, hanya melalui secarik kertas. Ikhlaslah dalam menjalani hari-harimu, Paijo...
Ttd
Retno
Surat Paijo 4:
Makasih Senja, atas nasehatmu. Itu menyegarkan otakku. Membangkitkan semangatku lagi. Betapa dalam hatimu, betapa luas pikiranmu. Betapa segalamu telah terbitkan rasa dalam relungku. Senja, belakangan ini aku terus memikirkan tentangmu. Aku selalu ingin melihatmu, meski hanya sebatas mata memandang. Apakah aku mungkin jatuh hati terhadapmu, Senja? Ini membuatku bingung, bayanganmu tlah mengisi hariku. Rasa yang perlahan bergetar saat pertama kutatap wajahmu. Kini ia menganak sungai, beriak-riak di jiwaku. Tapi suka tak suka aku harus mengatakan ini padamu. Sujud ampunku di kakimu, atas kelancanganku memelihara rasa ini. Namun sungguh, aku tak sanggup lagi mendustai hati. Retno, aku mencintaimu. Aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku? Menjadi belahan jiwaku?
Ttd,
Paijo
BABAK IV
Surat-surat Paijo yang menumpuk, Paijo menanti-nanti Retno hingga Retno diketemukan dalam keadaan membusuk
Scene 1:
Surat-surat Paijo menumpuk, tidak dibalas lagi dan Retno menghilang dari telaga
Narrator 2        : Senja kian tua. Surat-surat penghantar cinta Paijo pada Retno kian menumpuk sampai ke bulan. Yang dipuja kini menghilang di dalam rindu yang tak terbilang…
(Monolog Paijo dalam puisi yang merasa kehilangan)
Paijo                : (duduk di atas batu dengan wajah putus asa)Kemanakah ia? Sakitkah? Atau marahkah ia setelah membaca surat terakhirku padanya? Sehingga ia tidak mau lagi berkirim surat denganku? Tahukah ia, betapa rinduku ini dapat mengalahkan tingginya ngarai di desa kita? Mengalahkan tingginya langit senja?  Mengalahkan tingginya mentari yang beranjak ke peraduannya? Mengalahkan jauhnya kerlip bintang-bintang? Dan mengalahkan dalamnya telaga duka ini? Tahukah ia, wajahnya bertaburan di dalam mimpiku? Di dalam anganku? Curahan hatiku yang mengerti jiwaku? Belahan jiwaku? Tahukah ia, aku merindukan melihatnya duduk, di sana, di tepi telaga itu, dengan kecipak kakinya di permukaan air, termenung di dalam kesunyian???
(Paijo pulang ke rumahnya dengan perasaan linglung dan langkah gontai)
   
Scene 2:
Paijo baru selesai shalat, minta petunjuk pada Allah (dengan nada marah) tentang keberadaan Retno – monolog puisi Paijo
Paijo                : (mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah dengan raut memaksa)Ya Allah… Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi dan yang tidak tersembunyi, bagaimana dapat kulalui hari tanpanya? Tanpa dia yang menjadi tempat curahan hatiku? Bahagiaku? Cintaku? Mengapa ia menghilang begitu saja setelah membaca surat pernyataan rasaku padanya? Mengapa? Mengapa Ya Allah? Mengapa begitu banyak jawaban yang tidak terjawab? Mengapa Kau membiarkanku kebingungan dalam kerinduan yang kian menyesakkan ini? Mengapa Kau membiarkan aku tenggelam di dalam duka yang kian menyeretku ke dalam keputus asaan? Mengapa? Aku ingin jawaban-Mu, Ya Allah. Bukan pertanyaan. Jawaban. AKU INGIN JAWABAN. DI MANAKAH RETNO BERADA KINI? AKU INGIN JAWABAN-MU SEKARANG JUGA. SEKARANG!!!
(terdengar suara riuh di luar rumah Paijo dan derap langkah yang terburu-buru)
Scene 3:
(Ponirah ke luar rumah. Terbengong-bengong melihat keramaian)
Ponirah : (menarik tangan Bejo) Ada apa kok pada Melayu?
Bejo : (berhenti) Ada mayat wanita mengapung di telaga. Sudah bau dan membusuk!
(Bejo kembali dalam kerumunan dan Ponirah masuk ke dalam rumah)
Ponirah : (nafas terengah-engah) Paijo, ayo ke telaga. Kata orang ada mayat  wanita yang sudah bau dan membusuk.
(tanpa komentar Paijo langsung lari menuju telaga)
Paijo tidak dapat berkata-kata. Ia terlongong-longong menatap mayat Retno
Narrator 2        : Manusia… Yang selalu perlu waktu untuk memahami dan mengerti… hikmah di balik setiap peristiwa… yang tergurat di atas kanvas kehidupan dunia… bahwa kadang kala… segala sesuatunya tidak harus selalu membutuhkan jawaban… melainkan pemahaman …
Paijo                : Inikah jawaban-Mu untukku, Ya Allah???
(dengan terbata-bata)
********The End*********

Kubuat dia tak berkutik dengan goyangan seks ku

 

cerita seks, cerita dewasa yang bikin gairah seks meningkat
Cerita kali ini akan coba membahas tentang cerita seks yang seru dan heboh. Pemerintah sendiri juga menyarankan untuk banyak membaca, nah untuk itu mari kita baca sama-sama bagaimana serunya cerita seks abg berikut ini. Ah.Om-om sudah pernah aku coba,kadang tu aku sampai-sampai kwalahan abis Dedek nya om kuat banget,aku jadi merem melek.Ada juga yang sudah klenger sebelum aku mencapai orgasme.Saatnya berburu lagi om-om asyik juga,kadang kantongnya tebel lumyan buat isi perur dan shoping di mall habisin waktu libur bersama teman.Bulan ini setelah sempat berkumpul-kumpul di cafe aku dan teman-temen sepakat untuk berlibur di suatu tempat.Aku dan temen2ku, Lina dan Sintia, weekend akhirnya di setujui untuk meluncur ke Anyer. Sintia nyewa cottage disana ya untuk bisa happy tentunya’. Kali ini mereka berdua gak bawa pasangannya masing2 itu ada maksudnya, karena memang kita ber3 mo berburu om om. Sebenarnya mereka mo bawa pasangannya, tapi karena aku gak punya pasangan tetap, gak jadi deh. “Kamu sih Nes, gak punya pasangan tetap”, protes mereka. “Ngapain punya pasangan tetap, banyak kok lelaki yang mo bikin Ines klepek2 sampe lemes”, aku membela diri. Akhirnya mereka mengalah. Kita nyampe di Anyer Jumat sore, banyak juga lelaki yang lalu lalang di pantai didepan cottage yang disewa Sintia. Ada yang bawa pasangan, tapi banyak juga yang sendirian. Segera kami ber3 memakai seragam wajib buat mejeng, bikini yang minim dan seksi. Kami bermain2 di pantai sambil melirik lelaki ganteng yang mondar mandir disana. Segera saja Lina dan Sintia dapat pasangan, mereka langsung cabut dengan pasangannya masing2 meninggalkan aku sendirian. Memang kalo pergi ber3, aku selalu yang paling akhir dapet pasangan. Aku berbaring saja di kursi yang banyak tersedia dipantai, sampe akhirnya ketiduran.
Aku terkejut ketika ada yang menyenggol2 kakiku. Aku membuka mataku. Ada seorang lelaki ganteng, badan tegap, pokoknya tipeku bangets deh, bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendek gombrong. “Halo, aku Edo. Sori ya membangunkan kamu. Kok sendirian sech”, tanyanya. “Saya Ines. Tadi sih datengnya ber3, teetapi temen2 Ines pergi gak tau kemana sama pasangannya masing2. Jadi Ines sendirian deh, sampe ketiduran. Om juga sendiri, eh boleh kan manggil om”, jawabku. “Boleh aja, mau gak kamu nemenin om”. “Emangnya om juga sendirian ya kemarinya, itu mah diniatin karena disini pasti om juga nyari pasangan, nyarinya yang abg kan om?”. “Ah bisa aja kamu. Om kemari sama pasangan kok, sama istri. Gini Nes, om mau terus terang. Istri om pengen banget ngeliat om ngentot ama prempuan lain”. Dia terdiam sejenak memandangiku, melihat apa responsku terhadap keterus-terangannya. “aku hanya tersenyum2 saja. “Kok cuma senyam senyum Nes, kamu mau gak ama saya dan istri, threesome gitu Nes”. Aku senang aja dapet tawaran seperti itu, biasanya kalo aku ber threesome, lelakinya 2 sampe aku termehek-mehek (kaya acara tv aja yach) ngeladeninya. Aku sih gak yakin itu istrinya, paling juga TTM nya, tapi siapa perduli. “Ok om, Ines mau deh”. “ener ya Nes, terima kasih deh”. “Kok om milih Ines sih, tuh disana ada beberapa cewek yang sepertinya abg juga”. “Om dah survei mereka, om sreknya sama kamu Nes, om napsu banget liat kamu. Bikini kamu minim banget, toket kamu besar lagi. Jembut kamu lebat ya Nes”. “Kok om tau sech”. “La iyalah, bulutangan ama bulukaki kamu panjang2, terus kamu ada kumisnya. Pasti jembut kamu lebat banget, dan juga napsu kamu juga besar kan. Kamu pasti gak puas cuma maen 1 ronde. Iya apa iya?” “Om dah pengalaman rupanya ya”. “Yuk deh ke cottage om, istri om dah nunggu disana”. “Istri apa istri sih om”, godaku. Dia hanya senyum2 saja mendengar godaanku. Aku digandengnya ke cottagenya, melalui cewek2 abg yang lagi bercanda2, mereka semua juga berbikini. “Om, gak jadi nih ngajak kita?’, mereka mengganggu om Edo.

Sesampainya di cottagenya, ada seorang wanita, belum tua tapi yang pasti bukan abg dan jauh lebih tua dari aku, juga berbikini. “Ini Lina, istri om”. “Saya Ines tante”. “Jangan panggil aku tante, belum tua kok dipanggil tante, panggil nama aja biar lebih akrab”, protesnya. Lina tubuhnya tinggi semampai, lebih tinggi dari rata rata wanita Indonesia. Kulitnya mulus, berwarna kuning langsat (kenapa harus kuning ? apa tidak ada warna lain? He.. he.. heee), wajahnya bernuansa oriental. Tapi herannya kenapa toketnya besar ya ? Biasanya tipe tipe seperti itu kan toketnya cenderung kecil. Ukuran bra nya 34C (sama dong seperti aku). Toketnya yang besar terlihat bergelayutan seakan akan mau meloncat dari dalam bra bikini nya. Pentilnya kelihatan jelas tercetak karena branya tipis. Perutnya rata bener, mungkin belum punya anak, apalagi dengan berlian yang ditindikkan di pusarnya sebentar sebentar berkilauan bila dia menggerakkan tubuhnya. Sedangkan pahanya, alamak, betul betul paha peragawati, mulus sekali. Belum lagi matanya yang redup sayu membuat laki laki yang ditatapnya merasa seperti dipanggil untuk mendekat.
Kamipun pergi ke belakang cottage. Rupanya om Edo menyewa cottage yang ada fasilitas kolam renang pribadi yang tertutup dari pandangan orang lain. Ditepi kolam renang ternyata sudah dipersiapkan semacam kasur angin ( seperti yang diiklankan di TV itu lho ).Disampingnya ada meja taman yang diatasnya terletak buah buahan, sebotol wine dan beberapa botol soft drink. Tentu saja ada juga tiga buah gelas kristal yang cantik. Tapi aku tidak tertarik dengan semua itu, karena setiba ditepi kolam renang, buru buru aku menceburkan diri ke air. Rupanya inisiatifku diikuti oleh mereka berdua. Kuperhatikan kontol om Edo ternyata sudah ngaceng dibalik celana gombrongnya, walaupun belum seratus persen. Tidak begitu lama kami berada diair. Kemudian kami bertiga duduk di kasur angin tersebut. Kini aku yang mengambil inisiatif. Kudorong tubuh om Edo supaya telentang dan kutarik tangan Lina untuk memegang kontol om Edo. Sedang aku sendiri cepat cepat memperamainkan toket Lina dari belakang sambil menciumi belakang telinga dan kuduknya. Diperlakukan demikian, apalagi sambil memegangi kontol om Edo yang sudah tambah mengeras, nafsu Lina rupanya cepat naik. Nafasnya agak memburu sedang mukanya sudah mulai memerah. Melihat itu om Edo mulai beraksi mengambil alih permainan. Sambil merebahkan tubuh Lina dikasur, aku disuruh menghisap menciumi toket Lina dari luar branya, sedang dia mulai menciumi paha sebelah dalam Lina, terus keatas, sampai ke daerah nonoknya. Sedang tangannya yang kiri mulai menggerayangi nonokku yang juga sudah mulai gatal. Permainan tidak berlangsung lama, om Edo segera melepas bikini Lina sehingga Lina sekarang bertelanjang bulat. Toketnya yang besar dan kencang dihiasi dengan sepasang pentil yang juga sudah mengeras. Jembutnya juga lebat, walaupun tidak selebat jembutku. Kemudian dia melepaskan bikiniku, paling akhir dia melepas celana gombrongnya. Kontolnya yang sudah ngaceng dengan kerasnya, berdiri mengangguk2, panjang dan besar sekali. Sampai dibelahan nonok Lina, tanpa basa basi mulut om Edo langsung menyerbu dan menjilat jilat sambil menghisap hisap itil Lina. Lina langsung menggelinjang hebat. Mulutnya mulai mendesis “Ouccggghhh…….” om Edo sadar bahwa dia harus memuaskan dua orang cewek secara bergantian dan berkali kali, maka tanpa membuang waktu lebih lama dia sodorkan kontolnya yang sudah ngaceng penuh itu ke belahan nonok Lina.
Dia menggosok gosokkan ujung kontolnya ke itil dan bibir nonok Lina. Tentu saja hal tersebut membuat Lina bergelinjang tidak keruan. Lina langsung memegang kontol om Edo yang luar biasa besar itu untuk dimasukkan kedalam nonoknya. Tidak mudah, mungkin karena nonok Lina masih sempit. Aku jadi semakin yakin bahwa Lina bukan istri om Edo. Kalo dia istrinya, harusnyaom Edo tidak sulit untuk membenamkan kontol gedenya di nonok Lina. Maka, sambil menghisap hisap toket Lina, jari jari nya menolong membuka bibir nonok Lina supaya bisa dilalui kontolnya. “Uuuccchhh…..mmmhhhh “ rintih Lina menahan rasa nikmat. Tak berapa lama kontol om Edo berhasil juga menyeruak kedalam nonok Lina, walaupun baru sebatas kepala dan separo batangnya saja. Itupun sudah membuat Lina menjerit tertahan merasakan nikmat . “ Oouugghhhh…maas, tteerruuussss ….. oouughhh … eennnaakkkk… “ celotehnya. Mukanya jadi merah membara, matanya membeliak beliak keatas, pahanya makin dilebarkan dan pinggulnya diangkat angkat keatas. Walaupun mulutnya masih terus menghisap hisap toket Lina, terdengar bisikannya padanya “ Goyang Lin, goyang pantatmu supaya kontol ku cepat bisa masuk seluruhnya “ Diapun menggoyang goyangkan pantatnya diringi dengan hunjaman keras kontol om Edo, maka blesss… amblaslah semua batang kontol om Edo. “Aaarrggccchhhh……” pekik Lina “Maas…… kkontttoll mu ……mmmhhhhh…eennaakkk sseekkalliii….” Setelah itu om Edo makin giat menghunjam hunjamkan kontol besarnya ke dalam nonok Lina yang makin menggelinjang gelinjang dengan hebatnya. Tubuhnya yang sudah basah dengan air itu makin basah lagi bercampur dengan keringat, sedang selangkangan dan jembutnya makin basah dengan cairan yang mulai keluar dari lubang nonoknya. Matanya makin membeliak beliak sambil mulutnya yang mungil itu ternganga nganga.
Akupun mulai berinisiatif lagi, lidahku mulai menjilati muka Lina, bibirnya, turun ke leher, dan akhirnya ke toketnya yang besar itu lagi. Tentu saja hal tersebut membuat tubuh Lina yang telanjang itu makin menggelinjang. Kurang dari setengah jam Lina kami perlakukan demikian ketika tiba tiba tangan Lina yang kanan mencengkeram erat erat tanganku, sedang tangannya yang kiri memeluk erat erat pinggang om Edo. Sambil mengangkat pinggulnya tinggi tinggi orgasmenya meledak diriringi teriakannya “Aaaarrrggghhh… Maaas ….oooccchhhhhhh……” Linapun terkapar sambil tangannya memegangi kontol om Edo yang tentu saja belum orgasme. Lina rupanya tidak ingin cepat cepat kehilangan kontol itu dari nonoknya.
Aku terpana sekali menyaksikan adegan itu. Tangankupun tanpa sadar telah mengelus elus nonok dan itilku sendiri. Tetapi sadar akan tugasnya untuk memuaskan diriku juga, maka dengan halus om Edo melepaskan kontolnya dari nonok Lina dan mengacungkannya padaku. Tentu saja hal itu kusambut dengan bahagia, kupegang kontol itu kuusap usap, kucium kemudian ku hisap hisap sambil kutelan sisa cairan dari nonok Lina yang menempel hingga bersih. Akupun ingin memamerkan kepiawaianku ngentot kepada Lina, maka setelah menghisap hisap kontol om Edo, kusuruh dia tidur telentang sehingga kontolnya mencuat keatas. Akupun segera menungganginya sambil berusaha memasukkan kontol om Edo kedalam nonokku, dan bleessss… masuklah kontol om Edo seluruhnya. Aku tergelinjang ketika ujung kontol om Edo menyentuh bagian paling sensitive didalam nonokku, tapi kuusahakan bagian itu tidak tersentuh dulu, supaya perngentotan ini berjalan agak lama. Beberapa saat menaik turunkan pantatku diatas tubuh om Edo. Ternyata Lina memperhatikan adegan ini, dan dengan mata terbelalak sambil mulutnya terbuka, dia bangkit duduk untuk menyaksikannya lebih dekat. “Hisap pentil toket om Edo, Lin.. “ suruhku pada Lina. Tentu saja Lina menurut, dan sambil menungging dihisap hisapnya pentil toket om Edo. Kesempatan ini rupanya dimanfaatkan oleh om Edo. Sambil merem melek keenakan, dia mulai mempermainkan itil Lina, dipencet pencetnya, digosok gosoknya, sehingga Lina menggelinjang gelinjang keenakan. Melihat muka Lina makin memerah, om Edo meminta persetujuanku untuk menuntaskan hasrat birahi Lina lagi. “Percayalah, aku tidak akan sampai ngecret ….” bisiknya. Akupun mengangguk setuju.
Kemudian dengan lembut toket Lina didorong sehingga dia rebah telentang. Om Edopun memulai lagi aksinya. Disedot sedotnya itil Lina sambil dijilat jilatnya dengan rakus. Aku makin terpana melihat wajah Lina yang mengeluarkan ekspresi yang sulit untuk kuceritakan. Pokoknya ekspresi untuk meminta segera dientot lagi. Mungkin om Edo sadar bahwa masih ada tugas selanjutnya yaitu mengentotiku, maka tanpa buang buang waktu segera diacungkannya kontolnya ke mulut Lina. Agak kikuk Lina menerima pemberian itu, tetapi karena tadi dia melihatku, mengelus elus, menjilat jilat dan menyedot nyedot kontol om Edo, maka diapun berusaha berbuat demikian. Hampir tidak masuk kontol om Edo kedalam mulut Lina yang mungil itu. Setelah beberapa saat dihisap hisap, kemudian om Edopun mencabut kontolnya dari mulut Lina dan langsung mengarahkannya ke tengah lobang nonok Lina dan …bleeesss………karena nonok Lina sudah banjir, hanya dengan sedikit kesulitan kontol om Edo sudah amblas seluruhnya kedalam lubang nonok Lina dan…..”Ooouuuggghhhhh…….” Pekik Lina lirih “ Teerruuuusssss……maaas….. ggennjjot llaggiiii ……..” pinta Lina sambil merem melek dan wajahnya memerah padam. Tanpa membuang buang waktu om Edopun langsung memompakan kontol besarnya secara cepat dan bertubi tubi didalam lubang nonok Lina. “Ughhhh….. ughhhhh….” Terdengar rintihan nikmat Lina dipadu dengan bunyi kontol om Edo keluar masuk nonok Lina yang makin banjir itu. Rupanya om Edo ingin perngentotan ini cepat selesai maka makin kencanglah kontolnya menyodok nyodok lubang nonok Lina. Rupanya karena termasuk golongan pemula dalam blantika perselingkuhan maupun tehnologi persetubuhan, Lina masih bersumbu pendek dan cepat mencapai puncak birahi karena belum setengah jam, tiba tiba tubuh Lina mengejang, pinggulnya diangkat tinggi tinggi sembari tangannya memeluk erat pinggang om Edo maka …… “Maaas… akkuuu ……. nyampeeee….. “ dan seiring dengan itu tangannya memeluk makin erat tubuh om Edo seolah tidak mau lepas lagi. Beberapa saat kemudian barulah dia tergeletak dengan lemas dibawah tubuh telanjang om Edo. Om Edopun tersenyum sambil melirik kearahku dan tangan nya mengelus elus rambut Lina. Rupanya Linapun keenakan diperlakukan demikian.
Dengan lembut ditinggalkannya Lina yang telentang manja dan langsung menghampiriku. Akupun tahu diri, segera kutelentangkan diriku, kubuka pahaku lebar lebar sambil kutekuk lututku keatas. Tanpa basa basi om Edo langsung menyerbu diriku dan memasukkan kontolnya ke lubang nonokku. Jago benar dia, tusukan kontolnya bisa persis ditengah tengah lubang nonokku. Tentu saja aku tergelinjang menerima tusukan yang tiba tiba itu. Dan dengan nafsu yang membara karena sempat tertunda tadi, maka kulayani om Edo dengan sepenuh keahlianku. Kuempot empot kontol om Edo dengan nonokku, dan kugoyang goyang dengan hebat, sehingga walaupun memakan waktu agak lama dan mengeluarkan suara crot … crot … crot sekitar setengah jam lebih, maka om Edo dan akupun secara bersamaan melayang ke langit biru yang diselimuti kenikmatan dan …..” Ugghhhhh..ughhh….. om, Ines….. mmmau….. nyampee….. ogcchhhhh……..” “Aakkuuu….. jjuggaa…..mo ngecret, Nes……. aayyoo….bbaarrreeennggggggg…..” “ukkhhh… acchhhhh….. mmhhhhh…..” dan ……..sshhyyuuuurrrrrrrr…… seperti semburan Lumpur hangat lapindo di Sidoarjo sana nonokku dan kontol om Edo secara bersama sama menyemburkan cairan kenikmatan banyak sekali. Kontol om Edo tetap aku jepit erat erat dengan nonokku sehingga seluruh pejunya habis tertelan kedalam lubang nonokku. Tubuhku dan tubuh om Edo berpelukan erat sekali sambil bibir kami berpagutan.
Tentu saja hal semacam ini belum pernah dialami dan dilihat oleh Lina. Dengan keadaan terengah engah aku lirik Lina duduk bersimpuh dekat sekali disamping kami sambil mulutnya ternganga, wajahnya merona merah sambil tanpa sadar tangannya memijit mijit itilnya sendiri. Rupanya dia amat terangsang dan ikut terhanyut dengan pemandangan didepan matanya itu. Maka acara selanjutnya kamipun menceburkan diri ke kolam renang, bercanda sebentar dan kemudian mandi bertiga di kamar mandi. “Nes ….” Kata Lina tiba tiba sambil merangkul bahuku dari belakang. Kurasakan kedua pentil Lina menempel di punggungku. “Hmmh …” sahutku. “Terus terang aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana kepadamu. Perngentotan seperti tadi sama sekali tidak pernah kubayangkan. Bermimpipun tidak pernah. Aku tidak pernah membayangkan kok perngentotan bisa mendatangkan kenikmatan yang begitu hebat dalam diriku”. Rupanya Lina itu wanita yang kesepian, suaminya janrang sekali memberikan nafkah batin karena sibuk dengan pekerjaannya saja. Bertemu dengan om Edo gak tau dimana, Linapun membuat fantasi seksnya selama ini menjadi kenyataan. Malah dia menginginkan ber threesome, itulah sebabnya om Edo mengajakku untuk join dalam kegilaan ini. Terima kasih Lina.
Sepertinya semuanya belum puas dengan ngentot yang cuma seronde. Om Edo berbaring telanjang di kasur angin. Lina segera mengocok-ngocok kontolnya perlahan. Aku berjongkok di depannya. Lina mulai memasukkan kontol om Edo ke dalam mulutnya. Kepalanya mulai bergerak naik turun. Pipinya yang sedikit menonjol disesaki kontol om Edo. Sementara aku menciumi dan menjilati pahanya menunggu giliran. Sesaat kemudian, Lina mengeluarkan kontol om Edo dari mulutnya, dan aku langsung meraihnya dengan bernafsu. Kujilati terlebih dahulu mulai dari kepala sampai ke pangkal batangnya, dan perlahan aku mulai menghisap kontol om Edo. Om Edo menarik Lina dan menciuminya. Linapun membalas pagutan om Edo. Ciuman dan jilatannya kemudian beralih ke pentil om Edo, sementara kontolnya masih menjejali mulutku. Segera om Edo menarik Lina kedalam pelukannya. Om Edo menjilati pentilnya. “Ahh…ssstt…” erangan nikmat keluar dari mulut Lina. Erangan ini semakin keras terdengar saat jari om Edo mengusap-usap nonoknya.
“Sebentar ya Nes..”kata om Edo sambil mencabut kontolnya dari mulutku. Lina ditariknya sampai berbaring dan om Edo mengarahkan kontolnya ke nonok Lina. “Pelan-pelan ya mas.” desah Lina perlahan. Kontol om Edo mulai menerobos nonok Lina. Erangan Lina semakin menjadi. Tangannya tampak meremas sprei ranjang. Mulutnya setengah terbuka, dan matanya terpenjam. “Ahhhh…ahhhh” desah Lina saat om Edo mulai menggenjot kontolnya keluar masuk. Lina mulai menggelinjang merasakan kontol om Edo menghunjam ke nonoknya sementara aku menonton adegan itu dengan penuh napsu. Om Edo menghentikan enjotannya dan mengganti posisi, sekarang Lina yang diatas. Kembali kontol om Edo menerobos nonok Lina. “Ahhhh….” erangnya. Lina kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya turun naik mengocok kontol om Edo didalam nonoknya. Om Edo meraih aku kedalam pelukannya dan mencium bibirku. Toketku diremasnya dengan gemas, pentilku mendapat giliran selanjutnya. “Sstttthhhh….sstttt” erangku saat om Edo menjilati dan dengan gemas mengisap toketku. Sementara Lina masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Matanya terpejam. Om Edo memilin-milin pentil Lina sementara aku menjilati pentil om Edo. “Ahhhhh……” erang Lina panjang saat dia nyampe. Tubuhnya mengejang beberapa saat, kemudian lunglai di atas tubuh om Edo. Om Edo menciumi pundak Lina beberapa saat, sebelum digulingkan kesebelahnya.
“Giliranmu Nes..” katanya. Aku langsung menghentikan hisapanku pada pentilnya, dan dengan bergairah menggantikan posisi Lina. Aku menaiki tubuhnya dan kuarahkan kontol om Edo ke nonokku. “Ihhh..gede banget…iihhhh” desahku saat kontolnya menerobos nonokku. Dengan bernapsu aku menggoyang-goyangkan tubuhku. Toketku berguncang-guncang saat aku mengenjotkan pantatku turun naik. Terkadang om Edo menarik tubuhku agar dia bisa menghisapi pentilku. Bosan dengan posisi ini, om Edo minta aku menungging sambil memegang tepian bagian kepala ranjang. Disodokkannya kontolnya kembali ke dalam nonokku. Aku kembali mengerang. “Ihh..ihh..” desahku saat dienjot dari belakang. Lina tak berkedip melihat aku dientot secara “doggy-style”. “Sini Lin” om Edo memanggilnya. Saat dia menghampiri, langsung om Edo kembali menciumi Lina, sementara itu tangannya memegang pinggangku sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku. “Ihh..ihh.. Ines nyampe om.” erangku saat aku nyampe. Dia melepaskan kontolnya dari nonokku. Aku ditelentangkannya dan segera kontolnya ambles lagi dinonokku. Om Edo dengan penuh napsu mengenjotkan kontolnya dengan cepat dan keras, keluar masuk menggesek nonokku, sampai akhirnya dia menjerit keenakan. Terasa ada semburan peju hangat didalam nonokku. Diapun terkulai. “Om mainnya hebat banget …” kata Lina sambil tersenyum. “Iya..kita berdua aja dibuat kewalahan…”sahutku sambil mengusap-usap dadanya. “Habis kalian cantik-cantik sih. Jadi nafsu nih” jawabnya. “Kita sih puas banget deh dientot mas, lemes tapi nikmaat banget, ya Nes” kata Lina. “Yang gemesin ini lho..gede banget ukurannya” kataku sambil mulai mengusap-usap kontolnya. “Iya.Rahasianya apa sih om?” TKurasakan kontolnya mulai mengeras lagi, luar biasa.
“Mas, buat kenang-kenangan Lina video ya..” ujar Lina tiba-tiba, sambil bangkit mengambil HPnya. “Jangan ah. Udah nggak usah” om Edo menolak. “Ah..nggak apa mas. Habis kontolnya gemesin banget deh..Lina nggak ambil mukanya kok..” sahutnya. “Awas, bener ya. Jangan kelihatan mukanya lho” kata om Edo lagi. “Mas berdiri di sini aja biar lebih jelas. Terus kamu isepin Nes.. Ntar gantian” kata Lina. Om Edo bangkit dan berdiri di samping ranjang. Aku kemudian berjongkok di depannya, dan mulai menjilati kontolnya. “Rambut kamu Nes..jangan nutupin” kata Lina sambil mulai merekam adegan itu. Om Edo membantu aku menyibakkan rambutku dan aku mulai mengulum kontolnya sambil mengelus-elus biji pelernya. Lina merekam adegan itu dengan antusias. Om Edo mengerang nikmat, sambil membantu menyibakkan rambutku. Cukup lama aku mengemut kontolnya. Sementara tampak Lina sangat terangsang melihat aku menikmati kontol om Edo. “Nes..gantian dong..” katanya beberapa saat kemudian. Hpnya diserahkan ke aku, dan gantian Lina sekarang yang berjongkok di depan om Edo. Disibakkannya rambutnya kesamping agar aku dapat merekam adegan dengan jelas. Dijilatinya perlahan seluruh kontol om Edo. Lubang kencingnya digelitik dengan lidahnya, kemudian mulutnya mulai mengulum perlahan kontol om Edo. “Jangan pakai tangan Lin..” kataku yang sedang merekam adegan itu. Lina kemudian melepas tangannya yang memegang kontol om Edo, dan ia memaju mundurkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengeluarkan kontol dari mulutnya dan, tetap dengan tanpa memegang kontol, Lina menjilatinya sambil bergumam gemas. Kemudian dihisapnya kembali kontol om Edo dengan bernafsu. Diperlakukan seperti itu, om Edo gak tahan lagi. “Arrghh.. hampir ngecret nih..” erangnya.”Om yang ambil ya..” kataku sambil menyerahkan hp padanya. Aku kemudian berjongkok bersama dengan Lina. Kontol itu kukocok-kocoknya. Om Edo tidak tahan lagi. Sambil merekam adegan, dia ngecret membasahi muka kami. Setelah beristirahat sejenak, om Edo meminta hp Lina. Dia ingin memastikan wajahnya tidak terlihat di rekaman video yang tadi diambil. Kemudian mereka berdua masuk kedalam, aku masih berbaring di kasur, tak lama kemudian aku ketiduran. Hari sudah gelap.
Aku terbangun karena ada mencium bibirku. Om Edo duduk dikasur, aku ditariknya duduk disebelahnya. Napsuku bangkit dengan sendirinya. Segera tanpa membuang-buang waktu lagi om Edo menyambar tubuhku. Dilumatnya bibirku dan tangannya beraksi meremas toketku. “Hhhmm..gimana Nes? Udah siap dientot lagi?” “Lina kemana om?’ “Lagi tiduran dikamar, aku pengen ngentotin kamu sendirian deh Nes”. Kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tangan gempalnya mulai meremasi toketku, sementara tangan yang lainnya mulai mengelus-elus pahaku. Aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah itilku. Toketku diremas, dibelai, dan dipelintir pentilnya, sambil tangan satunya tetep menggesek itilku. Aku melenguh kenikmatan. Tiba2 dia mendorongku telentang dikasur, dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jarinya mengusap-ngusap bagian permukaannya saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan jembutku, jarinya mencari liang nonokku. Perasaan nikmat begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada toketku, dan permainan jarinya pada nonokku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai. Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh”. Kontol besarnya sudah mengeras dan mengacung siap memulai aksinya. Aku terbelalak memandang kontol hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku. Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuhku. Dia mengencangkan remasan pada toketku kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit om!”. Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku. “Uuuhh..sakit ya Nes, mana yang sakit..sini om liat” katanya sambil mengusap-usap toketkuku yang memerah akibat remasannya. Dia lalu melumat toketkuku sementara tangan satunya meremas-remas toketku yang lain. Perlahan-lahan akupun sudah mulai merasakan enaknya. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang nonokku sambil mulutnya terus melumat toketku, terasa pentilku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leherku hingga akhirnya bertemulah bibirku dengan bibirnya yang tebal itu. Naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.
Om Edo lalu berlutut sehingga kontolnya kini tepat dihadapanku yang sedang telentang dikasur. Dia menggosokkan kontolnya pada wajahku. Aku mulai menjilati kontol hitam itu mulai dari kepalanya sampai biji pelernynya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Semakin lama aku semakim bersemangat melakukan oral sex itu. Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik itilku. Dia kini berada di bawahku dan menjilati belahan nonokku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalamnya sehingga nonokku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan dengan kontolnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada nonokku, tubuhku mengejang dan cairan nonokku menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya nyampe. Tubuhku lemas diatas tubuh nya dan tangan kananku tetap menggenggam batang kontolnya.
Setelah puas menegak cairan nonokku, dia bangkit berdiri di kasur. Tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala kontolnya pada nonokku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Kontol yang gemuk itu masuk ke nonokku yang cukup sempit. Dia terus menjejalkan kontolnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh kontol itu tertancap. “Ooohh..nonok kamu lebih peret dari nonok Lina, Nes, nikmat banget deh”. Aku senang juga mendengar pujiannya. “Ines juga nikmat om, kontol om gede banget”. “Kamu belum pernah ngerasain kontol gede ya Nes”. “Yang gede sering om, tapi yang segede kontol om baru kali ini, enjot terus om, nikmaaat”. Puas menikmati jepitan dinding nonokku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari. Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan napsunya, dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap toketku yang tergoncang-goncang. Hal ini memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Setengah permainan, dia mengganti posisi. Aku disuruhnya nungging di dipan. Dari belakang dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Nah, ini baru namanya pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus nonokku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah itu. Dia mulai mempersiapkan kembali kontolnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir nonok dan pantatku. Kemudian dia menyelipkan kontolnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat kontol itu pelan-pelan memasuki nonokku. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangannya meremas-remas kedua toketku sambil sesekali dipermainkannya pentilku yang sudah mengeras. “Ooohh.. enak banget deh ngentotin kamu Nes!” celotehnya. Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari nonokku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah nyampe sekali lagi. Aku mengira dia juga akan segera mengecretkan pejunya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas mengenjotku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku ditariknya sehingga kepalaku terangkat. Sudah cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan ngecret. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas kontolnya, aku sudah siap menerima semprotan pejunya, namun ternyata kontol itu masih mengacung dengan gagahnya.
Om Edo lalu duduk, “Sini Nes, om pangku!” suruhnya. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, aku menuntun kontolnya memasuki nonokkku. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya, dia pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan toketku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba toketku, mulutnya menangkap toketku yang satu lagi. Toketku disedot dan dikulumnya, kumisnya yang terkadang menyapu permukaan toketku memberi rasa geli dan sensasi yang khas. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan, “Uuugghh..nonok kamu enak banget, Nes”. esahanku bercampur baur dengan lenguhannya. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat aku nyampe lagi, cairan nonokku kembali tercurah sampai membasahi dipan, secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada toketku. “Om, kuat banget sih ngentotnya, Ines dah beberapa kali nyampe, om belum ngecret juga, lemes om”. “Tapi nikmat kan?”
Kemudian dia melepaskan kontolnya dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada kontolnya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan cairan nonokku. Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, “Nes, aku mau ngecret, di nonok kamu ya”. Segera aku dibaringkan didipan, dia menaiki aku dan sekali enjot kontol besarnya langsung ambles semuanya di nonokku. Dienjotkannya kontolnya keluar msuk dengan cepat dan akhirnya, “Ooohh..Nes, aku ngecret” dan disusul ‘creett..creet..’ pejunya menyemprot dengan deras didalam nonokku, terasa sekali semburan kuatnya menghangati bagian dalem nonokku. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat. Sebelum kembali terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku “nonok kamu enak banget, aku jadi ketagihan nih!”

Memerawani Anak Kos


Cerita Seks kali ini akan mencoba menghadirkan sebuah kisah seksku memerawani anak kos . Simak aja cerita seks berikut ini. Mungkin bisa jadi inspirasi anda. Dinding rumah mulai agak kusam,tandanya rumah harus segera ada perhatian.Ya plafon juga sudah ada sedikit ada sedikit kerusakan,ya lumyan lama rumah ini berdiri sekitar 5 tahun yang lalu.Suasanya halaman yang dulunya asri oleh bunga warna-warni kini seakan tiada lagi,hanya tertinggal berbagi saja,bunga tulip,melati satu batang,bunga anggrek pemberian tante.Semua itu prediksi ku harus segera di percepat mengingat rumah ku sebagai tempat kost,Penghuninya biar nyaman yang “punya rumah kudu”perhatian juga.Mengingat  service itu dimana saja harus baik.Aku Punya tempat kos-kosan,dengan menjadikan rumah sebagai tempat beristirihat sejenak bagi yang membutuhkan,Tapi dalam yang ku alami aku tidak pernah menduga ada kejadian mengesankan,ini ceritanya,Pertama kali aku mengenalnya adalah saat pulang dari Jakarta, dia adalah siswa sekolah keguruan yang ada di kotaku pada saat itu,dia cantik,manis dan bertubuh mungil dengan kulit putih. Dasar nasibku lagi mujur tak lama berselang dia pindah kost kerumahku jadi mudah bagiku tuk lebih jauh mengenalnya.
Ternyata orangnya supel dan pandai bergaul, sehingga aku tambah berani tuk menyatakan perasaan hatiku, lagi-lagi aku beruntung dia menerima pernyataanku ,ukh bahagianya aku.
Suatu hari aku ada acara keluar kota ,iseng aku mengajaknya pergi,ternyata dia menyambut ajakanku. Sepanjang jalan menuju luar kota kami ngobrol sambil bercanda mesra,kadang tanganku iseng pura –pura tak disengaja menyentuh pahanya mulanya dia menepis tanganku tapi lama kelamaan membiarkan tanganku yang iseng mengelus pahanya yang putih dan gempal,aku memberanikan diri mengelus- elus pahanya sampai kepangkal pahanya . Dia tetap diam bahkan seperti menikmati elusan tanganku.

Aku tarik tanganku dari rok hitamya lalu bertanya padanya boleh nggak aku menyentuh payudaranya yang membukit dibalik baju berwarna pink.mulanya dia menolak ,aku coba merayunya bahwa aku ingin mengelus walau hanya sebentar.
Akhirnya dia mengangguk pelan,langsung aja tanganku menyusup kebalik bajunya dan mengusap,mengelus bahkan saat kuremas susunya yang mungil dan kenyal dia hanya mendesah dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil yang kami kendarai.Kupermainkan putting susunya dengan dua jari dia semakin mendesah ,sambil tetap menyetir aku tarik reslting celanaku dan aku keluarkan penisku yang telah menegang sejak tadi bak laras tank baja ,aku pegang tangannya dan kutarik kearah penisku, saat tangannya menyentuh penisku yang besar dan panjang dia tarik kembali tangannya mungkin kaget karena baru pertama kali.
Dengan sedikit basa basi kembali kutarik tangannya tuk memegang penisku akhinya dia menyerah kemudian mulai mengelus penisku perlahan.
“ Ang,punyamu besar sekali hampir sebesar pergelangan tanganku “ katanya
“ Hmm,susumu juga kenyal sekali “ kataku sambil menikmati elusan tangannya pada penisku
Tak lama kami sampai di kota tujuan,langsung aku cari tempat untuk menginap setelah itu pergi lagi tuk belanja keperluan selama di kota itu.
Malam kami ngobrol diberanda depan kamar tempat kami menginap sambil nonton tv ,kami duduk berdampingan sekali kali tanganku bergerilnya ditubuhnya ternyata dia dibalik baju tidurnya dia hanya memakai cd sehingga tanganku bisa bebas meremas remas susunya dan mempermainkan putingnya .
“ Akh,Ang jangan terlalu keras “ katanya kala kuremas dengan rasa gemas.
“ Maaf,habis susumu kenyal sekali “ kataku
“ Iya ,tapi sakit “ katanya
“ Iya pelan deh,kita pindah kedalam yuk “ kataku berbisik padanya dan mengangguk perlahan.
Sesampainya didalam aku peluk dia dari belakang,kuciumi tengkuknya yang putih dengan penuh nafsu dia bergelinjang kegelian sedangkan kedua tanganku bergerilya pada tubuhnya.
“ Akh,Ang ………..shhhhhhhh “ kata mendesah
Tanganku mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan kulepas bajunya hanya tinggal cd nya yang berwarna hitam.Kukulum bibirnya ,dia membalas kulumanku dengan penuh gairah.Tangannya mengusap-usap penisku sesekali meremasnya sehingga aku merasakan nikmat yang tak terhingga.
“Ukh,…teruskan yang “ kataku
“ Ikh besar sekali,panjang lagi “ katanya.
“ Ssssst ,”kataku sambil mengulum putting susunya yang makin menegang,tanganku kupergunakan untuk menurunkan cdnya .Kuusap perlahan gundukan daging empuk yang ditumbuhi bulu – bulu hitam halus ,dia menggelinjang kegelian dan kulanjutkan dengan menggelitik belahan memeknya hangat terasa.
“Akh,….teruskan pelan pelan “katanya sambil meremas penisku.Kemudian aku menurunka kulumanku pada susunya ke pusarnya ,dia mengangkat pinggangnya keenakan kuteruskan ciumanku pada memeknya dan menegang saat lidahku yang kasar menjilati memeknya yang merah merekah. Dia mengimbangi permainan lidahku dengan menggoyangkan pinggulnya bibirnya tak henti-henti mendesah .
“Sekarang giliranmu sayang “kataku padanya sambil menyodorkan penisku kemulutnya .Perlahan tapi pasti dia mulai menciumi batang kemaluanku yang sejak tadi menegang ,saat dia mulai mengulum penisku terbang rasanya menahan rasa nikmat .
Setelah itu kutelentangkan kekasihku yang putih,susunya yang mungil menggunung dengan memeknya yang merah merekah dibalik bulu- bulu hitam halus .Perlahan – lahan aku menaikinya ,kugosok-gosokkan penisku pada belahan memeknya dia meregang sambil mendesah tak karuan merasakan nikmatnya gosokkan penisku.Kemudian kutekan sedikit demi sedikit penisku pada memeknya ,pinggulnya naik seakan menyuruh agar penisku segera dimasukkan pada memeknya.
“Ayo,akh aaaaaaaakh teruskan sayangku” katanya sambil menarik pinggangku
“Baiklah ,sayang aku masukkan ya “ kataku sambil menekan penisku agar masuk lebih dalam lagi pada lubang memeknya perlahan karena takut dia kesakitan,sempit sekali.
“Aduh..,sakit Ang akh……..” katanya
“Sebentar juga hilang “ kataku,penisku keluar masuk memeknya yang terasa basah dan hangat.Rupanya ini pengalaman pertama baginya karena ada noda darah pada pangkal pahanya.
“Terus ….lebih cepat akh………ukh nikmat sekali kontolmu yang” katanya berani mungkin karena pengaruh rasa nikmat dari keluar masuknya penisku yang panjangnya 28 cm,penisku pun mulai merasakan nikmat dari gesekan dengan dinding dalam memeknya.
“Akh…….terus goyang pinggulmu “ kataku padanya,dan dia menuruti kataku menggoyangkan pinggulnya Tak lama dia mengerang sambil memelukku erat rupanya dia telah mencapai orgasme,dia berbaring lemas dibawaku sedangkan penisku masih menancap pada memeknya yang terasa basah .Terlihat ada air mata pada ujung kelopak matanya ,melihat itu aku segera berbisik padanya bahwa aku akan bertanggung jawab atas semua ini.Barulah dia berubah riang kembali dan aku mulai aktifitas kembali menaik turunkan penisku dan dia merespon gerakanku dengan bersemangat .Malam itu melakukannya sebanyak 6 kali sampai akhirnya tertidur pulas sampai pagi.



Bersama tante girang penuh nafsu dan haus seks

Nama saya Agus, umur 22 tahun. Saya ingin menceritakan cerita seks pengalaman ngentot dengan tante kenalan dari chatting. berawal dari chatting bersama tante lina yang sedikit genit dan susu toket payudaranya gede banget saat di cam. Tiap kali chat dan liat cam tante lina aq selalu adikku alias kontolku nyut-nyutan dibuat tante itu. soalnya tiap chat tante lina selalu mengundang pembicaraan tentang sex dan seks. hingga akhirnya kami janjian untuk ketemuan. Awal pertemuan saya dengan tante lina adalah di tempat senam mamaku. Tapi karena ternyata tante lina adalah teman mama, aq ga berani ngapa-ngapain sama dia. Tapi setelah pertemuan pertama, aq dan dia berjanji akan ketemu lagi disebuah tempat yang enak buat ngentot dan ml . Aq sebelum ML dan ngentot dengan tante lina sudah ketagihan dan ga bisa ngebayangin enak dan legitnya memek tante lina. Ahhh ….. Uhhhh belom ketemu si tante girang yang satu itu rasanya kontolku dah mau crot duluan… Hahahaha

Terus, dia menanyakan ibu saya,
“Mama kamu kok tidak pernah Tante liat lagi di senam, Gus?”
“Eh.. iya Tan, belakangan ini mama saya lagi sakit,” jawab saya sambil sedikit senyum.
“Ooo..” jawab Tante D.
Tiba-tiba dia menyeletuk lagi,
“Kamu suka chatting di room #**** (edited) juga yah Gus..? padahal itu room khan khusus buat tante-tante,” belum sempet saya menjawab, dia nyeletuk lagi,
“Kamu suka sama tante-tante yah Gus..?”
Tiba-tiba saja muka saya jadi merah dan rasanya mulut susah dibuka, tapi setelah menghela nafas, saya memberanikan diri,
“Iya Tan.., abis yang tua khan lebih pengalaman,” kata saya sambil tersenyum.
“Kamu bandel juga Gus..!” kata Tante D sambil tersenyum genit.
Karena di sana terlalu ramai, jadi saya diajak dia jalan-jalan pakai mobil saya (kalau pakai mobilnya dia takut ketahuan suaminya). Di jalan kami sempat ngobrol berbagai macam hal dari sekolah sampai kerjaan sambil nonton TV di mobil. Tante D ingin merubah channel TV, tapi dia salah tekan tombol. Yang ketekan malah tombol AV dan langsung saja muncul “BF” yang kemarin lupa mencabutnya dari changer (biasanya kalau lagi sama pacar saya, sering memutar blue film di mobil). Langsung saja mata Tante D setengah melotot melihat adegan “syur” yang ada di film itu (tapi saya malahan suka dengan kejadian yang tidak disengaja ini hehehe.. jadi tidak susah-susah merayu Tante D lagi). Tapi saya pura-pura sopan saja, langsung saya matikan TV-nya, tapi tiba-tiba Tante D memegang tangan kiri saya dan bilang, “Gus, kenapa kamu matikan? itu khan bagus buat pengetahuan seks!” Ya sudah tanpa basa-basi langsung saya hidupkan lagi.

Setelah beberapa menit kemudian saya lihat Tante D agak gelisah lalu saya pura-pura tanya saja,
“Tante kenapa gelisah?”
“Eh.. hmm.. tidak kok Gus..” mukanya kelihatan merah dan bicaranya sedikit tersendat-sendat.
“Gus.. kamu pernah ngelakuin yang kayak di film itu tidak?” tanya Tante D sambil menghela nafasnya yang sedikit tidak teratur.
“Belum tuh Tan.. kenapa?”
Saya tahu maksudnya tapi saya pura-pura tidak tahu saja.
“Pengen tidak kamu ngerasain yang kayak di film itu Gus..?”
Wah.. ini kesempatan bagus nih, jangan disia-siakan! Langsung saja saya jawab, tapi dengan nada polos biar tidak kelihatan seperti orang lagi kepingin, (dia khan teman ibu saya, jadi saya mesti extra hati-hati jawab pertanyaan dia!).
“Hmm.. mau Tante, emang Tante mau ajarin saya?” jawab saya dengan polosnya.
Terus dia jawab, “Mau dong Gus.. khan daun muda kayak kamu mainnya pasti kuat.”
Langsung saja dada saya jadi berdebar kencang, dan pikiran-pikiran kotor langsung mendarat di otak saya (busyet.. ini tante sepertinya hyperseks deh). Tiba-tiba “adik” saya yang tadinya tidur pulas kini sudah bangun dan berdiri kencang sehingga tampak celana saya ada gundukannya. Tante D tersenyum melihat ke arah celana saya, “Gus.. segitu saja kamu sudah nafsu, sini Tante liat, ‘adik’ kamu cakep apa tidak sih..?” Langsung saja dia mengelus-elus dan membuka resleting celana saya, sementara saya hanya bisa diam saja dan lebih konsentrasi ke depan. “Gus.. ‘adik’ kamu kuat yah.. otot-ototnya keluar, ‘adik’ kamu sering ikut fitnes dimana Gus?” tanya dia sambil bercanda dan saya hanya bisa diam dan tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menyelimuti kepala kemaluan saya, dan sedikit demi sedikit rasa hangat itu menjalar ke bawah menuju batang kemaluan saya. Sekilas saya lihat Tante D sedang asyik mengulum kemaluan saya yang keras dan besar itu, saya merasa melayang dibuatnya dan sesekali saya kehilangan kendali atas mobil saya. “Gus.. punya kamu gede juga yah.. Tante suka Gus.. hmm.. uhhmm..” Saya semakin kehilangan kendali, cepat-cepat saja saya pinggirkan mobil dan kebetulan tempat itu jarang dilalui orang dan agak gelap.
Setelah mobil berhenti, saya langsung membuka baju kaos Tante D dan kebetulan tidak memakai bra. Kemudian saya remas payudaranya yang besar dan empuk, dan tangan kanan saya memegang kepala Tante D sambil sesekali menekan ke bawah, “Tante.. enak.. hhss.. terusin Tan.. lebih dalem lagi..” permainan mulut Tenta D semakin mengganas sehingga menimbulkan suara yang menambah birahi, “Cproot.. cproott..” dan tiba-tiba dia menghentikan permainannya itu dan.. “Gus.. sekarang giliran kamu muasin Tante.. hmm..” Sambil mengatur nafas dia pindah ke kursi belakang, langsung saja saya ikut pindah ke belakang dan segera membuka celana jeans-nya (ternyata dia tidak memakai CD, mungkin dia sudah rencanakan hal ini sebelumnya) dengan posisi duduk menghadap ke samping dan mengangkangkan kakinya ke atas, lalu saya mainkan klitorisnya sambil satu tangan meremas-remas buah dadanya dan satunya lagi memegangi pahanya yang kiri. Tante D menggelinjang-gelinjang keenakan dan ketika lidah saya masukkan ke dalam lubang kemaluannya, dia menekan kepala saya lebih masuk lagi sambil berkata, “Hhmm.. enak sayang, lebih masuk lagi.. oohhmm..” ‘Adik’ saya sudah tidak tahan lagi dan langsung saja saya rubah posisi satu kaki di kursi yang satunya lagi di bawah, dan saya tuntun kemaluan saya memasuki lubang kenikmatan itu. “Bless..” karena lubang itu sudah dipenuhi oleh ludah saya jadi agak sedikit gampang memasukkan setengah dari kejantannan saya, baru sepertiga kejantanan saya masuk. Tante D sudah mengerang kesakitan bercampur nikmat, “Hhmm.. oohh.. Gus punya kamu tidak muat di Tante yah.. pelan-pelan Gus..” Sedikit demi sedikit saya masukkan dan berkat pelumas yang dikeluarkan Tante D akhirnya semuanya amblas masuk. Jeritan dia semakin menjadi-jadi ketika saya sodokkan lebih cepat dan cepat.
Sambil memainkan buah dadanya yang mungkin 36B, gerakkan saya semakin mengganas dan tentu saja Tante D yang sudah berpengalaman itu membalasnya dengan goyangan yang erotis. Tiba-tiba tubuh Tante D menjadi kaku dan memperlambat gerakannya, dia pegangi pantat saya sambil menggerakkan ke dalam, dan ternyata Tante D mencapai puncak nikmatnya, “Oohh.. oohh.. Gus.. hmm..” Karena saya belum mencapai puncak, jadi saya suruh Tante D merubah posisi jadi menungging, dan dia menurut saja, timbullah ide gila yang selama ini didamba-dambakan yaitu memasuki di lubang duburnya. Tanpa basa-basi langsung saja saya tancapkan berawal kepalanya dulu, tiba-tiba dia kaget, “Gus.. kamu mau masukin lubang dubur Tante yah!” Tanpa menghiraukan kata dia, saya langsung masukkan jari saya ke dalam lubang kemaluannya yang dibasahi oleh maninya. Ketika saya keluarkan jari saya, tampak mani yang kental membasahi jari saya dan langsung saya masuki ke lubang kemaluan Tante D dan dan dia mengerang pasrah, setelang lubang itu agak membesar dan dipenuhi mani sebagai pelicin saya kembali lagi mencoba menerobos masuk dan akhirnya berhasil.
Tante D kembali mengerang, “Acchh.. ooacchh..” Kembali saya menghujam dengan penuh nafsu sambil memainkan puting susunya yang keras, saya mengerang keenakan seakan-akan kemaluan saya ada yang menyedot dan menggenggam erat dari dalam, “Acchh.. achh.. enak Tan..?” tanya saya. “Enak sayang.. occhh.. terusin saja..” dan sampailah pada akhirnya dari dalam saya merasakan ada yang mau menerobos keluar, dan langsung saja saya cabut dan arahkan kemaluan saya ke mulut Tante D, dia membalikkan tubuhnya dan mulai mengocok dan sesekali menjilatnya,
“Cproot.. cproot..”
“Cepetan dong keluarnya sayang!”
“Cproot.. cproot..”
“Oocchh.. sedikit lagi Tante.. hhuu.. aghh..”
Dan akhirnya puncak kenikmatan datang dan menyembur masuk ke mulut Tante D lalu saya dorong masuk ke dalam mulut Tante D. Dia dengan lahapnya menghisap kepala kemaluan saya dan sesekali mengeluarkan mani saya. Akhirnya kami berdua berpelukan sambil saling pagutan dan lidah Tante D terasa sedikit asin akibat air mani saya.
Kami beristirahat sejenak dan sambil membenahi pakaian masing-masing dan kami pindah ke kursi depan. Tante D mendekati telinga saya dan berbisik dengen lembut, “Gus.. besok-besok kalau keluar sama Tante kamu bawa tissue yah, biar tidak mulut tante buat bersihin ‘adik’ kamu,” dalam hati saya tertawa (hehehe.. bisa juga tante ini bercanda, padahal sedang capai-capainya). “Iya Tante, tapi Tante harus pake CD juga buat bersihin ‘goa’ Tante yang nikmat itu biar tidak pake lidah saya,” balas saya. “Bisa saja kamu Gus..” dia tersenyum lalu mencubiti saya. Karena sudah jam sebelas malem jadi kami kembali ke tempat Tante D parkir mobilnya dan kami pisah di parkir itu. Kalau ada saran kirim ke e-mail saya.

Hawaii Romantic Couples Photos

EROTIK DLAM SENI