Jumat, 04 Juni 2010
Daftar Blog Di Google
1. Memperbaiki Pengaturan blog, Yang paling harus diperhatikan adalah bagian Publikasikan (publishing), nah di bagian paling bawah ada pilihan untuk –> Kirim Ping (send ping), pilihlah Ya atau Yes dan jangan lupa mengklik tombol Simpan Pengaturan untuk menyimpan perubahan pengaturan. Dengan mengatur pilihan kirim ping dengan Ya berarti setiap postingan kita akan di kirimkan ke google secara otomatis oleh blogger.
2. Link ke blog dengan page rank tinggi, Salah satu cara agar blog kita lebih cepat terindeks di google adalah kita di link oleh blog yang mempunyai page rank yang tinggi, dan biasanya blog-blog tersebut adalah blog terkenal.
3. Pasang tag meta, Salah satu cara agar blog kita lebih di lirik atau di kenali oleh mesin pencari miliknya om google adalah memasang tag meta di bagian header pada kode template blog. contoh tag meta untuk blogger seperti ini :
simpan di bawah kode untuk template baru atau di bawah kode untuk template klasik, jangan lupa klik Simpan perubahan
4. Daftar Google di http://www.google.com/addurl/, isi form yang di sediakan :
* URL –> Isi dengan URL blog sobat.
* Comments –> Isi dengan keyword atau kata kunci yang berhubungan dengan blog sobat
* Isi kotak kosong dengan huruf Verifikasi yang tersedia
* Klik tombol Add URL
* Selesai.
Mendaftar ke google sitemap maka setiap artikel yang kita posting akan secara otomatis di tangkap oleh google. Ada satu hal yang perlu di ketahui yaitu sobat harus mempunyai account email di google, akan tetapi sobat tidak perlu kawatir karena tak seperti waktu dulu yaitu untuk membuat email di google harus di invite oleh orang lain, sekarang sudah bisa sendiri. Bagi yang belum punya bikin dulu deh, jalan yang mudah adalah coba login di google dengan email yang di berikan untuk Blogger.com, nah nanti akan secara otomatis di suruh upgrade ama ntuh mbah google dan di suruh melengkapi formulir bikin account di google.
1. Login di google dengan ID GMAIL, silahkan kunjungi google sitemap
2. Setelah berada di halaman account, alihkan perhatian ke halaman sebelah atas ! di sana terdapat kotak isian di samping tombol Add Site, isilah kotak tersebut dengan alamat blog. Contoh : http://www.johanloa.com
3. Klik tombol Add Site
4. Klik link Verify your site
5. Klik menu dropdown yang ada, pilih metode yang di inginkan. Biar mudah pilih saja yang Add a meta tag
6. Copy meta tag yang di berikan, lalu paste pada notepad
7. Silahkan masuk ke account blogger dan tuju blog yang di daftarkan tadi
8. Copy paste meta tag yang di berikan tadi, sebaiknya di bawah kode
untuk template baru atau di bawah kode
untuk template klasik, jangan lupa klik Simpan perubahan
9. Bila sudah selesai, tuju kembali google site map, lalu klik tombol Verify
10. Selesai.
mp3 download
Sembilan Band - Cemara
Anang - Separuh Jiwaku Pergi
Domino - Siapa Yang Pantas.html
Domino - Cinta Terakhir.html
Geisha - Jika Cinta Dia.html
Kangen Band - Pujaan Hati
St 12 - Jangan Pernah Berubah (New Versi)
ST 12 - Isabella
ST 12 - KebesaranMU
Ridho_Rhoma - Kerinduan.mp3
Five Minutes - Aku Tergoda.mp3
Kuburan = Lupa Lupa Ingat.mp3
Wali Band - Cari Jodoh .mp3
GIGI_-_Ya_Ya_Ya.mp3
SALJU - Selamat Tinggal.mp3
UNGU - Penguasa Hati
Agnes Monica - Teruskanlah.mp3
EcaPedeh Band - Jamilah Jamidong.mp3
D Masiv - Lelaki Pantang Menyerah.mp3
Muhammad Dhani - Madu Tiga.mp3
Ungu - Hampa Hatiku.mp3
Teduh - cinta yg hilang.Mp3
The Rain - Boleh Saja Benci.mp3
Cokelat - 5 Menit Untuk 5 Tahun.mp3
Slank - Generasi Biru - Slank Dance.mp3
Numata - Begini Begitu.mp3
Ada Band - Pemain Cinta.mp3
Salju - Kasih.mp3
Ridho Rhoma - Menunggu.mp3
T2 - Jangan Lebai.mp3
Oppie Andaresta - Single Happy.mp3
The Virgin - Cinta Terlarang.mp3
The_Changcuters - Main Serong.mp3
Hijau Daun - Suara Ku Berharap.mp3
Tarzan Boys - Obat Penawar Rindu.mp3
Tarzan Boys - 100 Persen Salah.mp3
TIKET ~ KAU BUATKU BERARTI .mp3
Slank - Wake Up Tonight.mp3
Derby Romero - gelora asmara.mp3
Maha_Dewi - Sumpah I Love You.mp3
Ello - Masih Ada.mp3
ST12 - Aku Tak Sanggup Lagi.mp3
Apel G - KPK (Kau Putuskan Ku) .mp3
Nindy - Cinta Cuma Satu.mp3
Play Band - Tukang Tipu.mp3
Siti Nurhaliza - Ketika Cinta.mp3
Five Minutes - Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh.mp3
Wayang - Tersiksa.mp3
Superglad - Darah Muda.mp3
Letto - Lubang Di Hati.mp3
Joshua - O Box Part 2 .mp3
Maia Feat Cinta Laura - Penghianat Cinta.mp3
Slank - Drug Me Up.mp3
Ipang - Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi).mp3
RADJA - SEANDAINYA .mp3
J-Rocks - FALLING IN LOVE .mp3
LYLA - Mantan Kekasihku.mp3
Rossa feat Pasha Ungu - Terlanjur Cinta.mp3
Glenn Fredly - Hikayat Cintaku (Feat. Dewi Persik).mp3
Alexa - Jangan Pernah Pergi.mp3
BIP - Bintang Hidupku.mp3
Drive - Melepasmu.mp3
Project Pop - Maramaramara.mp3
Hello - Ular Berbisa.mp3
Ipang - Hey.mp3
Kerispatih - Demi Cinta.mp3
Kotak - Masih Cinta.mp3
Lyla - Takkan Ada.mp3
Nidji - Laskar Pelangi.mp3
Agnes Monica - Godai Aku Lagi.mp3
Peterpan - Kisah Cintaku.mp3
Sheila On 7 - Lagu Yang Terlewatkan.mp3
ST12 - Jangan Pernah Berubah .mp3
Sindentosca - Kepompong.mp3
Steven Coconuttreez - Selamat Jalan Kawan.mp3
Wali - Emang Dasar.mp3
TIKET - HANYA KAMU YANG BISA.mp3
D'Masiv - Tak Bisa Hidup Tanpamu.mp3
Angkasa - Luka.mp3
Dewiq - Koq Gitu Sih.mp3
THE CHANGCUTERS - SI PENAKLUK API.mp3
Anang - Separuh Jiwaku Pergi
Domino - Siapa Yang Pantas.html
Domino - Cinta Terakhir.html
Geisha - Jika Cinta Dia.html
Kangen Band - Pujaan Hati
St 12 - Jangan Pernah Berubah (New Versi)
ST 12 - Isabella
ST 12 - KebesaranMU
Ridho_Rhoma - Kerinduan.mp3
Five Minutes - Aku Tergoda.mp3
Kuburan = Lupa Lupa Ingat.mp3
Wali Band - Cari Jodoh .mp3
GIGI_-_Ya_Ya_Ya.mp3
SALJU - Selamat Tinggal.mp3
UNGU - Penguasa Hati
Agnes Monica - Teruskanlah.mp3
EcaPedeh Band - Jamilah Jamidong.mp3
D Masiv - Lelaki Pantang Menyerah.mp3
Muhammad Dhani - Madu Tiga.mp3
Ungu - Hampa Hatiku.mp3
Teduh - cinta yg hilang.Mp3
The Rain - Boleh Saja Benci.mp3
Cokelat - 5 Menit Untuk 5 Tahun.mp3
Slank - Generasi Biru - Slank Dance.mp3
Numata - Begini Begitu.mp3
Ada Band - Pemain Cinta.mp3
Salju - Kasih.mp3
Ridho Rhoma - Menunggu.mp3
T2 - Jangan Lebai.mp3
Oppie Andaresta - Single Happy.mp3
The Virgin - Cinta Terlarang.mp3
The_Changcuters - Main Serong.mp3
Hijau Daun - Suara Ku Berharap.mp3
Tarzan Boys - Obat Penawar Rindu.mp3
Tarzan Boys - 100 Persen Salah.mp3
TIKET ~ KAU BUATKU BERARTI .mp3
Slank - Wake Up Tonight.mp3
Derby Romero - gelora asmara.mp3
Maha_Dewi - Sumpah I Love You.mp3
Ello - Masih Ada.mp3
ST12 - Aku Tak Sanggup Lagi.mp3
Apel G - KPK (Kau Putuskan Ku) .mp3
Nindy - Cinta Cuma Satu.mp3
Play Band - Tukang Tipu.mp3
Siti Nurhaliza - Ketika Cinta.mp3
Five Minutes - Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh.mp3
Wayang - Tersiksa.mp3
Superglad - Darah Muda.mp3
Letto - Lubang Di Hati.mp3
Joshua - O Box Part 2 .mp3
Maia Feat Cinta Laura - Penghianat Cinta.mp3
Slank - Drug Me Up.mp3
Ipang - Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi).mp3
RADJA - SEANDAINYA .mp3
J-Rocks - FALLING IN LOVE .mp3
LYLA - Mantan Kekasihku.mp3
Rossa feat Pasha Ungu - Terlanjur Cinta.mp3
Glenn Fredly - Hikayat Cintaku (Feat. Dewi Persik).mp3
Alexa - Jangan Pernah Pergi.mp3
BIP - Bintang Hidupku.mp3
Drive - Melepasmu.mp3
Project Pop - Maramaramara.mp3
Hello - Ular Berbisa.mp3
Ipang - Hey.mp3
Kerispatih - Demi Cinta.mp3
Kotak - Masih Cinta.mp3
Lyla - Takkan Ada.mp3
Nidji - Laskar Pelangi.mp3
Agnes Monica - Godai Aku Lagi.mp3
Peterpan - Kisah Cintaku.mp3
Sheila On 7 - Lagu Yang Terlewatkan.mp3
ST12 - Jangan Pernah Berubah .mp3
Sindentosca - Kepompong.mp3
Steven Coconuttreez - Selamat Jalan Kawan.mp3
Wali - Emang Dasar.mp3
TIKET - HANYA KAMU YANG BISA.mp3
D'Masiv - Tak Bisa Hidup Tanpamu.mp3
Angkasa - Luka.mp3
Dewiq - Koq Gitu Sih.mp3
THE CHANGCUTERS - SI PENAKLUK API.mp3
LAGU KENANGAN Mp3
Download lagu kenangan
Lagu - lagu kenangan ini mengingatkan kita ke masa yang jadul
ADMIN : Kalo mau download tinggal di klik aja Lagunya ...
Jangan takut tuk klik iklan disebelah kanan ya...
Semalam Di Cianjur.mp3
Sepanjang Jalan Kenangan - Tety Kady.mp3
Ampunkan Segala Dosa.mp3
Andi Meriem Mattalata - Cintaku.mp3
Benyamin S - Abang pulang.mp3
Benyamin S - begini begitu.mp3
Benyamin S - item manis.mp3
Benyamin S - kompor meleduk.mp3
Benyamin S - Nangke Lande.mp3
Benyamin S - tukang kredit.mp3
Betharia sonatha - Dalam Kerinduan.mp3
Bimbo - Balada Seorang Biduan.mp3
Bimbo - Kehidupan.mp3
Bimbo - Merpati Putih.mp3
Bob Tutupoli - Widuri.mp3
Broery Marantika - Angin Malam.mp3
Bunga Sedap Malam.mp3
Bunga Seroja.mp3
Cinta Remaja.mp3
D'LLOYD - Apa Salah & Dosaku.mp3
D'LLOYD - Rintihan Hidup.mp3
D'lloyd - Sepanjang Lorong Gelap.mp3
d'lloyd_-_sendiri_lagi.mp3
Dewi Yul - Kau Dan Aku Sama.mp3
Dewi yul - Kharisma.MP3
Dewi Yul - Kini Kau Bukan Dirimu.MP3
Diana Nasution - Benci Tapi Rindu.mp3
Dlloyd - keagungan tuhan.mp3
Ebiet G - Lagu Untuk Sebuah Nama.mp3
Ebiet g - Untuk Kita Renungkan.mp3
EDDY SILITONGA - Biarlah Sendiri.mp3
Eddy Silitonga - Mama.mp3
Emillia Contessa - Mimpi Sedih.mp3
Ernie Djohan - Teluk Bayur.mp3
FARID HARDJA - Ini Rindu.mp3
Grace Simon - Senja Kelabu.mp3
GRACE SIMON - Bing.mp3
Gubahanku - Deddy Damhudi.mp3
Hanya Satu.mp3
Hatimu Hatiku.MP3
Jangan Sakiti hatinya.mp3
Jangan.MP3
Katakanlah.MP3
Koes Ploes - Hidup Yang Sepi.mp3
KOES PLUS - Andaikan Kau Datang.mp3
KOES PLUS - Cintamu Telah Berlalu.mp3
KOES PLUS - Dara Manisku.mp3
KOES PLUS - Doa Suciku.mp3
Koes Plus - Hatiku Beku.mp3
KOES PLUS - Manis & Sayang.mp3
Koes Plus - Telaga Sunyi.mp3
Koes Plus - Why Do You Love Me.mp3
Mungkin.MP3
Musafir.Mp3
PANBERS - Akhir Cinta.mp3
Panbers - Awal Dari Cinta.mp3
PANBERS - Cinta & Permata.mp3
Panbers - Gereja Tua.mp3
PANBERS - Hidup Terkekang.mp3
Panbers - Maafkan Daku.MP3
Pattie - Akhir Cinta.MP3
pergi Untuk Kembali.MP3
RACHMAT KARTOLO - Cinta Yang Terpendam.mp3
RACHMAT KARTOLO - Patah Hati.mp3
Rafika Duri - Rela.mp3
Rafika-Duri - Tirai.mp3
Seindah rembulan .mp3
Senja di Kaimana.MP3
Tak Ku Sangka.Mp3
Terlambat Sudah.Mp3
The Mercys - DALAM_KERINDUAN.MP3
The Mercys - KISAH_SEORANG_PRAMURIA.MP3
The Rollies - Salam Terakhir.mp3
Titiek Puspa - Kupu Kupu Malam.mp3
Titiek Puspa - Si Hitam.mp3
Lagu - lagu kenangan ini mengingatkan kita ke masa yang jadul
ADMIN : Kalo mau download tinggal di klik aja Lagunya ...
Jangan takut tuk klik iklan disebelah kanan ya...
Semalam Di Cianjur.mp3
Sepanjang Jalan Kenangan - Tety Kady.mp3
Ampunkan Segala Dosa.mp3
Andi Meriem Mattalata - Cintaku.mp3
Benyamin S - Abang pulang.mp3
Benyamin S - begini begitu.mp3
Benyamin S - item manis.mp3
Benyamin S - kompor meleduk.mp3
Benyamin S - Nangke Lande.mp3
Benyamin S - tukang kredit.mp3
Betharia sonatha - Dalam Kerinduan.mp3
Bimbo - Balada Seorang Biduan.mp3
Bimbo - Kehidupan.mp3
Bimbo - Merpati Putih.mp3
Bob Tutupoli - Widuri.mp3
Broery Marantika - Angin Malam.mp3
Bunga Sedap Malam.mp3
Bunga Seroja.mp3
Cinta Remaja.mp3
D'LLOYD - Apa Salah & Dosaku.mp3
D'LLOYD - Rintihan Hidup.mp3
D'lloyd - Sepanjang Lorong Gelap.mp3
d'lloyd_-_sendiri_lagi.mp3
Dewi Yul - Kau Dan Aku Sama.mp3
Dewi yul - Kharisma.MP3
Dewi Yul - Kini Kau Bukan Dirimu.MP3
Diana Nasution - Benci Tapi Rindu.mp3
Dlloyd - keagungan tuhan.mp3
Ebiet G - Lagu Untuk Sebuah Nama.mp3
Ebiet g - Untuk Kita Renungkan.mp3
EDDY SILITONGA - Biarlah Sendiri.mp3
Eddy Silitonga - Mama.mp3
Emillia Contessa - Mimpi Sedih.mp3
Ernie Djohan - Teluk Bayur.mp3
FARID HARDJA - Ini Rindu.mp3
Grace Simon - Senja Kelabu.mp3
GRACE SIMON - Bing.mp3
Gubahanku - Deddy Damhudi.mp3
Hanya Satu.mp3
Hatimu Hatiku.MP3
Jangan Sakiti hatinya.mp3
Jangan.MP3
Katakanlah.MP3
Koes Ploes - Hidup Yang Sepi.mp3
KOES PLUS - Andaikan Kau Datang.mp3
KOES PLUS - Cintamu Telah Berlalu.mp3
KOES PLUS - Dara Manisku.mp3
KOES PLUS - Doa Suciku.mp3
Koes Plus - Hatiku Beku.mp3
KOES PLUS - Manis & Sayang.mp3
Koes Plus - Telaga Sunyi.mp3
Koes Plus - Why Do You Love Me.mp3
Mungkin.MP3
Musafir.Mp3
PANBERS - Akhir Cinta.mp3
Panbers - Awal Dari Cinta.mp3
PANBERS - Cinta & Permata.mp3
Panbers - Gereja Tua.mp3
PANBERS - Hidup Terkekang.mp3
Panbers - Maafkan Daku.MP3
Pattie - Akhir Cinta.MP3
pergi Untuk Kembali.MP3
RACHMAT KARTOLO - Cinta Yang Terpendam.mp3
RACHMAT KARTOLO - Patah Hati.mp3
Rafika Duri - Rela.mp3
Rafika-Duri - Tirai.mp3
Seindah rembulan .mp3
Senja di Kaimana.MP3
Tak Ku Sangka.Mp3
Terlambat Sudah.Mp3
The Mercys - DALAM_KERINDUAN.MP3
The Mercys - KISAH_SEORANG_PRAMURIA.MP3
The Rollies - Salam Terakhir.mp3
Titiek Puspa - Kupu Kupu Malam.mp3
Titiek Puspa - Si Hitam.mp3
goyang
LAGU DANGDUT Mp3
Kamu bisa download sepuasnya lagu - lagu DANGDUT DISINI
Format Mp3
A. Rafiq - Cantik.mp3
A. Rafiq - Karena Dia.mp3
A. Rafiq - Pandangan Pertama.mp3
Ana_Lalia_-_Berdarah_Lagi.mp3
Ana_Lalia_-_Permohonan.mp3
Asmin Cayder - Tembok Derita.mp3
Baraya - Anjing & Sampah.MP3
Baraya - Asmara.MP3
Baraya - Bara Cinta.MP3
Baraya - Bulan Di Ranting Cemara.MP3
Baraya - Gedung Tua.MP3
Baraya - Hitam.MP3
Baraya - Nalangsa.MP3
Baraya - Sejuta Luka.MP3
Baraya - Surat Biru.MP3
Baraya - Syahdu.MP3
Baraya - Terkesima.MP3
caca handika - MANDI KEMBANG.mp3
Camellia Malik - Colak Colek.mp3
Cici Paramida - Wulan Merindu.mp3
Dayu. A.G. - Tabah .mp3
elvi sukaesih - AIR MATA.mp3
Elvi_Sukaesih_-_Kasih_Sayang.mp3
Format Mp3
A. Rafiq - Cantik.mp3
A. Rafiq - Karena Dia.mp3
A. Rafiq - Pandangan Pertama.mp3
Ana_Lalia_-_Berdarah_Lagi.mp3
Ana_Lalia_-_Permohonan.mp3
Asmin Cayder - Tembok Derita.mp3
Baraya - Anjing & Sampah.MP3
Baraya - Asmara.MP3
Baraya - Bara Cinta.MP3
Baraya - Bulan Di Ranting Cemara.MP3
Baraya - Gedung Tua.MP3
Baraya - Hitam.MP3
Baraya - Nalangsa.MP3
Baraya - Sejuta Luka.MP3
Baraya - Surat Biru.MP3
Baraya - Syahdu.MP3
Baraya - Terkesima.MP3
caca handika - MANDI KEMBANG.mp3
Camellia Malik - Colak Colek.mp3
Cici Paramida - Wulan Merindu.mp3
Dayu. A.G. - Tabah .mp3
elvi sukaesih - AIR MATA.mp3
Elvi_Sukaesih_-_Kasih_Sayang.mp3
Alquran Abadikan Sifat - Sifat Bangsa Israel
Jika melihat karakter Bangsa Israel, sebenarnya tidak perlu heran. Sebab, Allah SWT melalui wahyunya dalam Alquran sudah menggambarkan sifat buruk orang-orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan senang mengobarkan api peperangan dengan bangsa lainnya, terutama kaum Muslimin.
Dalam Alquran sedikitnya disebutkan 22 sifat buruk bangsa Yahudi, yakni:
1. Keras hati dan dzalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)
5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam karena dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)
Dalam Alquran sedikitnya disebutkan 22 sifat buruk bangsa Yahudi, yakni:
1. Keras hati dan dzalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)
5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam karena dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)
copy faste download
http://rs387.rapidshare.com/files/322173644/Pengen_Jadi_Artis-downloadbox.org.rar
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-dian-piesesha.htmll
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-nia-daniati.html
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-yuni-shara.html
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-dian-piesesha.htmll
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-nia-daniati.html
http://kangmuha.blogspot.com/2009/07/download-lagu-yuni-shara.html
Rabu, 02 Juni 2010
download blue
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Senin, 31 Mei 2010
Sabtu, 29 Mei 2010
DAMPAK PSIKOLOGI ANAK AKIBAT PERCERAIAN ORANGTUA
Marvin Dari waktu ke waktu, kasus perceraian tampaknya terus meningkat.
Maraknya tayangan infotainment di televisi yang menyiarkan parade
artis dan public figure yang mengakhiri perkawinan mereka melalui meja
pengadilan, seakan mengesahkan bahwa perceraian merupakan tren.
Sepertinya kesakralan dan makna perkawinan sudah tidak lagi berarti.
Pasangan yang akan bercerai sibuk mencari pembenaran akan keputusan
mereka untuk berpisah. Mereka tidak lagi mempertimbangkan bahwa ada
yang bakal sangat menderita dengan keputusan tersebut, yaitu anak-anak.
Namun, fenomena perceraian marak terjadi bukan hanya di kalangan artis
atau public figure saja. Di dalam keluarga sederhana, bahkan di dalam
lingkungan pendidik, lingkungan yang tampak religius, perceraian juga
banyak terjadi.
Salah satunya terjadi pada Pak Edy (bukan nama sesungguhnya), seorang
dosen yang bukan lagi junior
Sambil bertanya, sekilas ia menjelaskan kesulitannya mengasuh anak
satu-satunya yang berusia empat tahun. Doni, nama anak itu, menjadi
sangat nakal dan tidak mau ditinggal bekerja oleh ayahnya. Di akhir
Cerita, Pak Edy baru mengaku bahwa ia telah berpisah dengan istrinya
karena ketidakcocokan. Ayu, bocah berumur delapan tahun, mengalami
perubahan sangat memprihatinkan setelah orangtuanya bercerai. Ta
enggan berangkat ke sekolah. Sebab, di lingkungan dia belajar itu
banyak temannya yang bertanyatanya tentang kasus perceraian orangtuanya.
Ayu menjadi malu, merasa dirinya sangat buruk karena memiliki orangtua
yang bercerai. Dalam hati Ayu juga merasa marah kepada ayah dan ibunya
kenapa mereka sering bertengkar dan saling marah. Akibatnya, sulit
baginya mengharapkan bisa bepergian sekeluarga ke mal atau keluar kota
untuk berlibur, seperti yang dialami teman-temannya.
Sejak perceraian itu semangat belajar Ayu menurun drastis, Sehingga
nilai rapornya pun merosot. Anak yang tadinya gembira dan ceria itu
berubah diam, pasif, dan murung, dengan badan yang juga semakin kurus.
Dampak Yang Di timbulkan akibat percerain Berbeda
* Seperti yang terjadi pada Doni dan Ayu, perceraian selalu saja
merupakan rentetan goncangan-goncangan yang menggoreskan luka batin
yang dalam bagi mereka yang terlibat, terutama anak-anak.
Sekalipun perceraian tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan damai
oleh orangtuanya, namun tetap saja menimbulkan masalah bagi anak-anak
mereka.
Reaksi anak berbeda-beda terhadap perceraian orangtuanya. Semua
tergantung pada umur, intensitas serta lamanya konflik yang
berlangsung sebelum terjadi perceraian.
Setiap anak menanggung penderitaan dan kesusahan dengan kadar yang
berbeda-beda. Anak-anak yang orangtuanya bercerai, terutama yang sudah
berusia sekolah atau remaja biasanya merasa ikut bersalah dan
bertanggung jawab atas kejadian itu. Mereka juga merasa khawatir
terhadap akibat buruk yang akan menimpa mereka.
Bagi anak-anak, perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan
mengacaukan kehidupan mereka. Paling tidak perceraian tersebut
menyebabkan munculnya rasa cemas terhadap kehidupannya di masa kini
dan di masa depan. Anak-anak yang ayah-ibunya bercerai sangat
menderita, dan mungkin lebih menderita daripada orangtuanya sendiri.
Akibat Emosional
Dalam suatu perceraian, orangtua mencurahkan seluruh waktu dan
uangnya untuk saling bertikai mengenai harta, tunjangan uang yang akan
diberikan suami setelah bercerai, hak pemeliharaan anak, dan hak-hak lain.
Sementara itu, mereka hanya mencurahkan sedikit waktu atau usaha untuk
mengurangi akibat emosional yang menimpa anak-anaknya.
Pengacara yang terlibat dalam perceraian tersebut, sesuai tugasnya
memang hanya memfokuskan diri pada masalah hukum saja. Biasanya mereka
kurang memperhatikan akibat emosional pada diri anak-anak yang jadi
korban dalam peristiwa perceraian tersebut.
Mereka umumnya kurang ikut memikirkan bagaimana memberikan konseling
kepada kliennya, dalam hal ini orangtua yang mau bercerai, tentang
cara-cara terbaik dalam membantu anak-anak mengatasi dan menyesuaikan
diri dengan situasi yang ada.
Walaupun orangtua telah berusaha menyelesaikan perceraian dengan
hati-hati dan damai, tidak ada cara yang dapat mereka lakukan untuk
menghindari akibat negatif terhadap anak-anak.
Oleh karena itu, menjadi penting bagi orangtua yang dalam proses
perceraian untuk sebaik mungkin mengambil usaha-usaha khusus untuk
meminimalkan penderitaan dan kesusahan anak-anaknya. Ini membutuhkan
perhatian dan usaha aktif dari pihak orangtua.
Dampak Perceraian Sampai Dua Tahun.
* Umumnya anak-anak yang orangtuanya bercerai dilanda
perasaan-perasaan kehilangan (hilangnya satu anggota keluarga: ayah
atau ibunya), gagal, kurang percaya diri, kecewa, marah, dan benci
yang amat sangat.
Richard Bugeiski dan Anthony M. Graziano (1980) menyatakan bahwa dua
tahun pertama setelah terjadinya perceraian merupakan masa-masa yang
amat sulit bagi anak-anak. Mereka biasanya kehilangan minat untuk
pergi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersikap bermusuhan,
agresif depresi, dan dalam beberapa kasus ada yang bunuh diri.
Anak-anak yang orangtuanya bercerai menampakkan beberapa gejala fisik
dan stres akibat perceraian tersebut seperti insomnia (sulit tidur),
kehilangan nafsu makan, dan beberapa penyakit kulit.
Riset menunjukkan, setelah kira-kira dua tahun mengalami masa sulit
dengan perceraian orangtuanya, sampailah anak-anak tersebut ke masa
keseimbangan atau masa equilibrium. Di masa itu, kesusahan dan
penderitaan akut yang mereka alami sejak terjadinya perceraian mulai
berkurang.
Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan
mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang
menyakitkan bagi mereka.
Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang
orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah.
Dia khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib yang sama
seperti orangtuanya.
Kasus yang lain, anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa jadi
membenci laki-laki atau perempuan karena menganggapnya sama dengan
ayah atau ibunya yang telah menghancurkan keluarganya.
Label:
ES artikel campur
Menyiasati Stres Akibat Perceraian
Menyiasati Stres Akibat Perceraian
Menyiasati Stres Akibat PerceraianMengalami perpisahan setelah sekian tahun hidup bersama dalam satu rumah tangga seringkali menciptakan tekanan pada pasangan yang mengalami perceraian. Bahkan perpisahan â€Å“baik-baik†sekalipun, tetap menimbulkan emosi negatif – meskipun tidak sebesar pada pasangan yang menyisakan konflik pasca-perceraian.
Apabila tidak diatur dengan baik, stres akan menganggu fungsi dan kehidupan kita sehari-hari. Perceraian harus dipandang sebagai awal hidup baru yang lebih baik, bukan akhir dari segalanya. Cara terbaik untuk menjalani stres pasca-perceraian adalah dengan tetap berusaha tenang, mengambil waktu sejenak dan kemudian terus maju melanjutkan kehidupan.
Berikut sembilan tips untuk mengatasi stres di masa-masa berat saat proses dan sesudah perceraian.
- Perhatikan Kebutuhan Emosional Anda. Mintalah dukungan orang-orang terdekat: keluarga, orangtua atau sahabat terdekat Anda. Jika perlu, berdiskusilah dengan orang-orang yang juga baru saja menjalani perceraian. Jika masalah emosional Anda tak mampu diselesaikan oleh orang-orang terdekat, mintalah bantuan konsultan ahli.
- Jagalah Kesehatan Anda. Tidak ada gunanya diam termenung di rumah. Pergilah ke pusat kebugaran dan mulailah kembali berolah raga. Olahraga akan memperbaiki kondisi emosional Anda, menghilangkan ketegangan, kemarahan dan kecemasan yang datang menghinggapi.
- Manjakan Diri Anda. Tidak perlu pasangan untuk memanjakan Anda – kecuali Anda sudah menemukan pasangan baru yang siap memanjakan Anda. Lakukan hal-hal menyenangkan yang sulit Anda lakukan selama pernikahan sebelumnya: membaca buku, menonton film, hang out bersama teman-teman atau berlibur ke tempat-tempat yang selama ini ingin Anda kunjungi.
- Jangan Terlalu Keras pada Diri Anda. Ada masalah-masalah tertentu yang tidak bisa langsung diselesaikan dalam waktu singkat. Jika Anda merasa sudah melakukan yang terbaik, sekarang waktunya untuk pasrah. Anda akan merasa tertekan jika terus-menerus memikirkan masalah-masalah semacam ini.
- Jangan Tekan Emosi Anda. Meningkatnya emosi dalam kondisi perceraian merupakan hal yang lumrah. Mengeluarkan emosi jauh lebih sehat ketimbang menyimpannya di dalam hati. Hindari pelarian ke hal-hal negatif seperti minum minuman keras atau obat-obatan terlarang. Ceritakan semua masalah dan perasaan kepada orang terdekat Anda.
- Lupakan Harapan-harapan Anda di Masa Silam. Semua harapan yang Anda cita-citakan di awal pernikahan sudah berakhir. Tidak ada gunanya lagi memikirkan rencana-rencana Anda di masa silam. Buat rencana-rencana baru dan tataplah masa depan yang lebih cerah.
- Jangan Membuat Keputusan yang Terburu-buru. Anda baru saja membuat keputusan yang sangat besar. Beri waktu pada diri Anda selama beberapa waktu sebelum membuat keputusan besar berikutnya. Anda bisa saja menikah lagi atau memilih untuk melajang, namun pikirkan hal itu selama beberapa bulan ke depan.
- Selalu Berusaha Untuk Gembira. Tidak ada gunanya untuk bersedih. Semua sudah terjadi dan yakinlah bahwa ini jalan hidup yang terbaik untuk Anda. Usahakan untuk selalu bergembira dan hindari untuk menjauh dari lingkungan pergaulan Anda selama ini. Tetaplah bersenang-senang bersama orang-orang terdekat Anda.
- Tataplah Masa Depan yang Lebih Cerah. Hilangkan rasa sedih dan kehilangan Anda. Teruslah menatap masa depan dan percayalah bahwa masa depan Anda akan jauh lebih baik setelah perceraian ini. Mulailah hubungan baru yang lebih sehat dan bahagia
Label:
ES artikel campur
Minggu, 06 Desember 2009
PERANAN AGAMA DALAM TERAPI PENYAKIT JIWA
by Hadi Komara P
PENDAHULUAN
Dalam Undang-undang no 23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara social dan ekonomi. Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan secara klinis benar benar tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 hal yakni pikiran, emosional dan spiritual. Pikiran yang sehat terlihat dari cara pikir seseorang yang logis, emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosionalnya missal, takut sedih atau gembira, spiritual yang baik terlihat dari praktek keagamaan seseorang, yakni kita bisa melaksanakan apa yang diajarkan dan menjauhi berbagai larangan. Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi seseorang atau kelompok lain tanpa melihat SARA, atau bisa terlihat dari sikap saling toleransi dan menghargai. Dengan kondisi sehat badan, jiwa dan social akan menumbuhkan terhadap sehat secara ekonomi, yakni terlihat dari produktivitas seseorang, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong hidupnya atau keluarganya secara financial. Dengan demikian tingkat kesehatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas suatu bangsa.
Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) pada Puncak Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Tahun 2008 di halaman kantor Walikota Bogor, 20-10-2008.. Hadir dalam acara ini para Pejabat di lingkungan Depkes, Depdagri, Depsos, Depdiknas, Depag, Perwakilan WHO Indonesia, dan LSM. menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa sangat mempengaruhi produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat yang tidak mungkin ditanggulangi oleh sektor kesehatan saja. Mutu SDM tidak dapat diperbaiki hanya dengan pemberian gizi seimbang namun juga perlu memperhatikan 3 aspek dasar yaitu fisik/jasmani (organo biologis), mental-emosional/jiwa (psikoedukatif), dan sosial-budaya/lingkungan (sosiokultural).
Dalam kesempatan tersebut, Menkes menyampaikan 5 pesan mengenai kesehatan jiwa Indonesia, yaitu :
1. Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan; tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.
2. Status kesehatan jiwa individu sangat menentukan kualitas hidup, karena status kesehatan jiwa yang buruk akan menurunkan indeks pembangunan manusia Indonesia.
3. Kesehatan jiwa harus terintegrasi ke dalam semua aspek kesehatan, kebijakan publik, perencanaan sistem kesehatan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
4. Penanggulangan masalah kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyrakat, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat serta penderita dan keluarganya.
5. Setiap warga negara harus memelihara kesehatan jiwa dan raganya agar dapat hidup dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.
Atas dasar definisi Kesehatan tersebut di atas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Dari unsur "badan" (organobiologik), "jiwa" (psiko-edukatif) dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dan "kesejahteraan" dan “produktivitas sosial ekonomi”.
Dan definisi tersebut juga tersirat bahwa "Kesehatan Jiwa" merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari "Kesehatan" dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.
Menurut Undang-undang No 3 Tahun 1966 yang dimaksud dengan "Kesehatan Jiwa" adalah keadaan jiwa yang sehat menurut ilmu kedokteran sebagai unsur kesehatan, yang dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut:
"Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain". Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan- memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal, dan yang selaras dengan perkembangan orang lain.
Masalah jiwa, tentu saja masalah kerohanian atau nyawa dalam tubuh manusia. Jiwa adalah energi mental yang memiliki kekuatan untuk dapat memotivasi terjadinya proses perilaku yang menjadi bentukan aktivitas yang dilakukan sehari-hari . Tanpa jiwa, tentu manusia bukan apa-apa dan tidak disebut sebagai manusia. Karena itu mungkin jiwa adalah bagian dari manusia yang penting.
Pemahaman manusia tentang sebab-sebab terjadinya gangguan jiwa dari waktu ke waktu terus berkembang. Oleh karena itu, upaya penyembuhannya pun akan mengikuti perkembangan etiologinya. Pada abad ke-15 gangguan jiwa masuk dalam era demonologis yang menganggap gangguan jiwa adalah akibat guna-guna atau gangguan setan/roh jahat. Pada masa itu upaya penyembuhan dilakukan dengan mengusahakan agar setan-setan yang mengganggu manusia meninggalkan tubuh pasien, antara lain dengan dibacakan mantera, mengeluarkan darah dari tubuh pasien bahkan melubangi batok kepala (Colp R, 2001; Maramis, 1994).
Sampai dengan pertengahan abad 20 persepsi para tokoh atau ahli kesehatan pada umumnya memandang agama sebagai sisi negatif terhadap kesehatan jiwa. Maklumlah para pakar kesehatan jiwa pada waktu itu sebagian besar beraliran atheis, seperti Sigmund Freud, Albert Ellis dll. Pandangan mereka terhadap agama tercermin dalam beberapa pernyataan mereka antara lain menurut Sigmund Freud: ”A religious man is: an infantile helplessness, a regression to primary narcissism, a borderline psychosis, a primitive infantile state dan a universal obsessional neurotic. Sementara itu, menurut Albert Ellis, pemikiran orang beragama dianggap sebagai: irrational thinking and emotional disturbance (Larson, 2000).
Pada pertengahan abad ke-20 perkembangan bergeser kepada era fisikalistik, yang menganggap bahwa semua sebab penyakit adalah akibat dari ketidakseimbangan fisik-biologik, dan parameter kesakitan sudah barang tentu disandarkan pada parameter somatik dari pasien (Notosoedirdjo, 1999). Dengan demikian, upaya penyembuhan gangguan jiwa difokuskan dengan cara fisik-biologik pula. Pada fase ini perkembangan psikofarmakologi maju pesat sampai saat ini, di samping terapi kejang listrik (ECT). Namun demikian, perkembangan pesat di bidang psikofarmakologik dan terapi fisik lainnya tidak dapat menyembuhkan semua diagnosis gangguan jiwa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan hasil terapi gangguan jiwa terus dilakukan penyempurnaannya.
Mengingat bahwa hanya dengan mengandalkan aspek fisik-biologik saja banyak fenomena psikiatrik yang tidak dapat dijelaskan, maka Karen Horney mengajukan konsep holistik, yaitu terapi yang menyeluruh dalam penyembuhan gangguan jiwa. Jadi, selain memberikan terapi fisik-biologik, juga diberikan terapi psikologik dan terapi sosial. Pada era ini berkembang berbagai jenis psikoterapi, seperti psikoanalisis oleh Sigmund Freud, Existensial humanistik oleh Abraham Maslow, Client Centered oleh Carl Rogers, Terapi Gestalt oleh Fritz Perls, Analisis Transaksional oleh Eric Berne, Terapi Tingkah laku oleh Wolpe dan BF Skinner, Terapi Rasional Emotif oleh Albert Ellis, serta Terapi Realitas oleh Williams Glaser.(Corey, 1999., Maramis, 1994). Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini ternyata masih belum mampu diselesaikan berbagai masalah kesehatan jiwa baik ditinjau dari faktor etiologi maupun faktor terapinya.
Oleh karena itu, upaya untuk menyempurnakan penyelesaian masalah gangguan jiwa terus dilakukan, sehingga pada awal tahun 1980-an peran budaya, spiritual dan keagamaan mulai mendapat perhatian. Sejak tahun 1994 secara resmi WHO memasukkan aspek spiritual sebagai salah satu komponen dalam upaya memperoleh sehat jiwa, dan sejak itu konsep holistik dilengkapi menjadi: bio-psiko-sosio-spiritual (Hawari, 2005). Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) ketika membahas Cultural Psychiatry dalam Comprehensive Textbook of Psychiatry menyatakan bahwa faktor spiritualitas yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa meliputi pelbagai aspek, termasuk di dalamnya adalah aspek keagamaan. Juga dikatakan bahwa modalitas agama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keefektifan terapi personal nonspesifik terhadap pasien dengan gangguan jiwa.
Agama sangat penting dalam mengatasi masalah gangguan kejiwaan manusia karena dengan agama manusia dibimbing dalam kehidupannya. Masalah gangguan jiwa adalah akibat ketidakmapanan seseorang dalam berpersepsi dan mengeksistensikan dirinya dalam kehidupan ini. Dengan agama orang akan ber-positIve thinking, self control & self esteem yang baik, memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, sehingga daya tahan mentalnya menjadi lebih baik.
Mengingat bahwa peran agama dalam peningkatan kesehatan jiwa sangat penting tetapi sampai sekarang masih termarjinalkan keberadaanyannya, maka dalam kesempatan ini penulis membahas “Peranan agama dalam terapi kejiwaan”. Oleh karena bagaimanapun peranan agama bagi kehidupan tidak bisa dipisahkan secara fitrah kemanusian.
MASALAH GANGGUAN JIWA
Menurut American Psychiatric Association (APA, 1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distres (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.
Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive terhadap stresor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.
Oleh karena itu Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (www.dinkes-dki.go.id.htm).
Kesehatan jiwa meliputi:
1) Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
2) Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
3) Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari-hari
Gejala Gangguan Jiwa (Maramis, 1995) :
1. Gangguan kesadaran
a. Penurunan kesadaran
(1) Apati
Mengantuk dan acuh-tak-acuh terhadap rangsang yang masuk; diperlukannya rangsang yang sedikit lebih keras dai biasanya untuk menarik perhatiannya.
(2) Somnolensi
Jelas sudah lebih mengantuk dan rangsang yang lebih keras lagi diperlukan untuk menarik perhatiannya.
(3) Sopor
Hanya berespon dengan rangsang yang keras; ingatan, orientasi, dan pertimbangan sudah hilang.
(4) Subkoma dan koma
Tidak ada lagi respons terhadap rangsang yang keras; bila sudah dalam sekali, maka reflek pupil (yang sudah melebar) dan reflex muntah hilang lalu timbullah reflex patologik.
b. Kesadaran yang meninggi
Kesadaran yang meninggi adalah keadaan dengan respons yang meninggi terhadap rangsang: suara-suara terdengar lebih keras, warna-warni kelihatan lebih terang: disebabkan oleh berbagai zat yang merangsang otak.
c. Tidur
Gangguan tidur dapat berupa: insomnia, berjalan waktu tidur, mimpi buruk, narkolepsi, kelumpuhan tidur.
d. Hipnosa
Kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya menerima rangsang hanya dari sumber tertentu saja) melalui sugesti; mirip tidur dan ditandai oleh mudahnya disugesti; setelah itu timbul amnesia.
e. Disosiasi
Adalah sebagian tingkah laku atau kejadian memisahkan dirinya secara psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagian atau total. Disosiasi dapat berupa: trans, senjakala histerik, fugue, serangan histerik, sindroma ganser, menulis otomatis.
f. Kesadaran yang berubah
Tidak normal, tidak menurun, tidak meninggi, bukan disosiasi, tetapi kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan terhadap dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kwalitatif), seperti pada psikosa fungsional.
g. Gangguan Perhatian
Tidak mampu memusatkan (memfokus) perhatian pada hanya satu hal/keadaan, atau lamanya memusatkan perhatian itu berkurang daya konsentrasi terganggu.
2. Gangguan ingatan
Ingatan berdasarkan tiga proses utama, yaitu pencatatan atau registrasi, penahanan atau resistensi, dan pemanggilan kembali atau recall. Gangguan ingatan terjadi bila terdapat gangguan pada salah satu atau lebih dari ketiga unsur tersebut.
a. Gangguan ingatan umum
Gangguan ingatan tidak terbatas pada suatu waktu tertentu saja dan dapat meliputi: kejadian yang baru saja terjadi dan kejadian yang sudah lama berselang terjadi.
b. Amnesia
Adalah ketidakmampuan mengingat kembali pengalaman, mungkin bersifat sebagian atau total, serta retrograd atau anterograd.
c. Paramnesia
Adalah ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali (recall).
d. Hipermnesia
Adalah penahanan dalam ingatan dan pemanggilan kembali (arecall).
3. Gangguan orientasi
Orientasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenal lingkungannya serta hubungannya dalam waktu dan ruang terhadap dirinya sendiri dan juga hubungan dirinya sendiri dengan orang lain. Disorientasi atau gangguan orientasi timbul sebagai akibat gangguan kesadaran dan dapat menyangkut waktu, tempat, atau orang.
4. Gangguan afek dan emosi
Afek adalah nada perasaan, menyenangkan, atau tidak menyenangkan, yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. Emosi adalah manifestasi afek ke luar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik, lagi pula biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya: ketakutan, kecemasan, depresi dan kegembiraan). Bilamana afek dan emosi itu sudah begitu keras, sehingga fungsi individu itu terganggu, maka dikatakan telah terjadi gangguan afek atau emosi yang dapat berupa:
a. Depresi
Depresi dengan komponen psikologik, misalnya: rasa sedih, susah, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan yang patologis; dan komponen somatik, misalnya: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan nadi menurun sedikit.
b. Kecemasan dan ketakutan
Kecemasan dapat dibedakan kecemasan (tidak jelas cemas terhadap apa) dari ketakutan atau fear (jelas atau tahu takut terhadap apa). Komponen psikologiknya dapat berupa: khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takut, lekas terkejut, sedangkan komponen jenis somatiknya misalnya: palpitasi, keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, respons kulit terhadap aliran listrik galvanik berkurang, peristaltik bertambah, lekositosis.
Kecemasan dapat berupa:
(1) Kecemasan yang mengambang ( free-floating anxiety); kecemasan yang menyerap dan tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran;
(2) Agitasi: kecemasan yang disertai kegelisahan motorik yang hebat;
(3) Panik: serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan dan hiperaktivitas yang tidak terorganisasi.
c. Efori
Rasa riang, gembira, senang, bahagia yang berlebihan; bila tidak sesuai dengan keadaan maka ini menunjukkan adanya gangguan jiwa; jika lebih keras lagi dinamakan elasi dan jika keras sekali dinamakan exaltasi.
d. Anhedonia
Ketidakmampuan merasakan kesenangan, tidak timbul perasaan senang dengan aktivitas yang biasanya menyenangkan baginya.
e. Kesepian
Merasa dirinya ditinggalkan.
f. Kedangkalan
Kemiskinan afek dan emosi secara umum (berkurang, secara kwantitatif); dapat digambarkan juga sebagai datar, tumpul, atau dingin yang sama maksudnya; istilah-istilah ini tidak menunjukkan gradasi. Umpamanya kedangkalan emosi ialah tidak atau hanya sedikit merasa / kelihatan gembira atau sedih dalam keadaan atau mengenai sesuatu hal yang benar-benar menggembirakan atau menyedihkan.
g. Afek atau emosi tak wajar
Tak wajar atau tak patut dalam situasi tertentu (terganggu secara kwalitatif), umpamanya ketawa terkikih-kikih waktu wawancara. Bila extrim akan menjadi inadequate, yaitu afek dan emosi yang bertentangan dengan keadaan atau isi pikiran dan dengan isi bicara.
h. Afek atau emosi labil
Berubah-ubah secara cepat tanpa pengawasan yang baik, umpamanya tiba-tiba marah-marah atau menangis.
i. Variasi afek atau emosi sepanjang hari
Perubahan afek dan emosi mulai sejak pagi sampai malam hari. Umpanya, pada psikosa manik-depresi maka jenis depresinya lebih keras pada pagi hari dan menjadi lebih ringan pada sore hari.
j. Ambivalensi
Emosi dan afek yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap seorang, suatu obyek atau suatu hal.
k. Apati
Berkurangnya afek dan emosi terhadap sesuatu atau terhadap semua hal dengan disertai rasa terpencil dan tidak peduli.
l. Amarah, kemurkaan, dan permusuhan
Sering dinyatakan dalam sifat agresi. Bila ditujukkan kepada pemecahan masalah dan dipakai sebagai pembelaan terhadap suatu serangan yang yata, maka agresi itu konstruktif sifatnya. Agresi itu menjadi: patologik bila tidak realistik, menghancurkan dirinya sendiri, tidak ditujukan kepada pemecahan masalah dan jika merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.
5. Gangguan psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa: jadi merupakan efek bersama yang mengenai badan dan jiwa. Gangguan psikomotorik dapat berupa:
a. kelambatan
Secara umum gerakan dan reaksi menjadi lambat.
b. Peningkatan
Aktivitas dan reaksi umum meningkat.
c. Tik (tic)
Gerakan involunter, sekejap serta berkali-kali mengenai sekelompok otot atau bagian badan yang relatif kecil.
d. Bersikap aneh
Dengan sengaja mengambil sikap atau posisi badan yang tidak wajar, yang aneh atau bizar.
e. Grimas
Mimik yang aneh dan berulang-ulang.
f. Stereotipi
Gerakan salah satu anggota badan yang berkali-kali dan tidak bertujuan.
g. Pelagakan (mannerism)
Pergerakan atau lagak yang stereotip dan teatral (seperti sedang bermain sandiwara).
h. Ekhopraxia
Langsung meniru pergerakan orang lain pada saat dilihatnya; ekholalia: langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.
i. Otomatisma perintah (command automatism)
Menuruti sebuah perintah secara otomatis tanpa memikir dulu.
j. Otomatisma
Berbuat sesuatu secara otomatis sebagai pernyataan (expresi) simbolik aktivitas tak sadar.
k. Negativisme
Menentang nasihat atau permintaan orang lain atau melakukan yang berlawanan dengan itu.
l. Kataplexia
Tonus otot menghilang dengan mendadak dan sejenak, juga timbul kelemahan umum dengan atau tanpa penurunan kesadaran, yang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan emosi.
m. Gangguan somatomotorik pada reaksi konversi
Menggambarkan secara simbolik suatu konflik emosional dan dapat berupa:
(1) Kelumpuhan
(2) pergerakan yang abnormal, umpamanya tremor, tik, kejang-kejang atau ataxia
(3) astasia-abasia: tidak dapat duduk, berdiri dan berjalan.
n. Verbigerasi
Berkali-kali mengucapkan sebuah kata yang sama.
o. Berjalan
Tidak tegap, kaku (rigid)atau lambat
p. Gangguan motorik
Yang sebenarnya bukan merupakan gangguan psikomotor, yang mungkin sekali disebabkan oleh: pemakaian obat (umpamanya: tremor, hipokinesa, diskinesa, akatisia, karena neroleptika), gangguan ortopedik atau gangguan nerologik.
q. Kompulsi
Suatu dorongan yang mendesak berkali-kali, biarpun tidak disukai, agar berbuat yang bertentangan dengan keinginannya sehari-hari atau dengan kebiasaan serta norma-norma.
r. Gagap
Berbicara dengan terhenti-henti karena spasme otot-otot untuk bicara, mulai dari berbicara sangat ragu-ragu sampai dengan berbicara explosif.
6. Gangguan proses berpikir
Proses berpikir meliputi proses pertimbangan (judgment), pemahaman (comprehension), ingatan, serta penalaran.
a. Gangguan bentuk pikiran:
Dalam kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan terarah kepada tujuan.
(1) Dereisme
Titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.
(2) Pikiran otistik
Menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dai dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi.
(3) Bentuk pikir yang non-realistik
Bentuk piker yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umpamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler/ revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal.
b. Gangguan arus pikir
Yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran, yang timbul dalam berbagai jenis:
(1) Perseverasi
Berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan.
(2) Asosiasi longgar
Mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain.
(3) Inkoherensi
Gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimatpun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya.
(4) Kecepatan bicara
Untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
(5) Benturan (blocking)
Jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti ditengah sebuah kalimat.
(6) Logorea
Banyak bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa kontrol, mungkin koheren ataupun incoherent.
(7) Pikiran melayang (flight of ideas)
Perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh idea yang lain.
(8) Asosiasi bunyi (lang association)
Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, umpamanya pernah didengar.
(9) Neologisme
Membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum.
(10) Irelevansi
Isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
(11) Pikiran berputar-putar
Menuju secara tidak langsung kepada idea pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remah yang menjemukan dan yang tidak relevan.
(12) Main-main dengan kata-kata
Membuat sajak secara tidak wajar.
(13) Afasi
Mungkin sensorik (tidak atau sukar mengerti bicara orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar berbicara
PERANAN AGAMA BAGI MANUSIA
Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada di dalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupan sehari-hari atau Ikhsan (Hawari, 2002). Sementara itu, Lubis (2002) menjelaskan bahwa orang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakan didasari oleh kerelaan, mempunyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya, Lubis menyatakan bahwa agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saat menghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pemberi sarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan berperilaku baik terhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-Nya.
Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakan salah satu ciri sehat mental.
Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mengusulkan ada beberapa mekanisme keagamaan untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1. mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki persepsi ke arah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007), orang dengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ketahanan mentalnya karena memiliki self control, self esteem & confidence yang tinggi. Juga mereka mampu mempercepat penyembuhan ketika sakit karena mereka mampu meningkatkan potensi diri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.
Dervic sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mendapatkan bukti dalam penelitiannya, bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas tinggi ternyata menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, dan sebaliknya skor agresivitas dan impulsivitasnya rendah.
Umumnya para penganut agama akan melakukan kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya secara bersama-sama. Dan kegiatan bersama seperti ini dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan solidaritas antar jamaah. Oleh karena itu, Abernethy mengatakan bahwa orang yang memiliki komitmen agama yang tinggi akan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi pula, sedangkan Dervic menyatakan bahwa orang dengan komitmen agama yang tinggi dapat diharapkan memiliki moralitas yang terpuji pula. Penelitian Kendler sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mendapatkan pada orang-orang yang komitmen agamanya tinggi ketaatan terhadap norma sosialnya tinggi pula. Juga terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor religiusitas dan skor perilaku antisosial. Menurut Culliford, orang yang tingkat religiusitasnya tinggi kualitas hidupnya diharapkan juga tinggi. Hal ini tercermin pada hubungan sosial dengan masyarakat yang baik, keberadaannya dapat diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya. Dervic mendapatkan bukti dalam penelitiannya bahwa orang dengan skor religiusitas tinggi, pada umumnya dapat membina keharmonisan keluarga, dan pada umumnya dapat membina hubungan yang baik di antara keluarga.
Terdapat pertanyaan yang cukup mendasar tentang peran keagamaan terhadap perubahan fisik–biologik, sebagaimana dituntut oleh para pakar yang berorientasi fisikalistik. Namun, akhir-akhir ini telah banyak penelitian yang dapat mengungkap masalah ini. Temuan Emoto sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) yang mendapatkan bukti bahwa dengan perkataan yang baik dan halus sebagaimana perkataan orang yang sedang berdoa dapat mengubah partikel air menjadi kristal heksagonal yang indah, dan selanjutnya bermanfaat dalam upaya kesehatan secara umum. Sebaliknya, dengan perkataan yang kasar seperti hinaan atau cemoohan akan menyebabkan kristal-kristal air menjadi buruk.
Dari informasi ini dapat diperkirakan ada kaitan antara potensi internal manusia dengan kondisi eksternal yang berada di alam semesta. Potensi internal ini diduga berada pada lobus frontalis yang oleh Ramachandran disebut sebagai God spot (Hawari, 2002). Penelitian yang lebih cermat untuk mencari lokasi God spot telah dilakukan oleh Borg melalui pencitraan otak menggunakan PET (Positron Emision Tomography-Radio ligand) untuk mengukur kepadatan reseptor 5HT1A yang diduga berperan dalam pengendalian perilaku manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas/spiritualitas yang tinggi ternyata kepadatan reseptor 5HT1A mereka rendah di regio nukleus raphe dorsalis, hippokampus, dan neo¬korteks. Hal ini yang diduga bertanggungjawab atas perilaku tenang pada orang dengan komitmen agama tinggi (Fanani, 2007).
Penelitian dari aspek psikoneuroimunologik yang terkait langsung dengan aktivitas peribadatan dengan kesehatan jiwa pada umumnya menunjukkan adanya korelasi positif. Beberapa hasil penelitian tersebut antara lain: Abernethy sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) menyatakan bahwa orang-orang dengan skor religiusitas tinggi kadar CD-4 (limfosit T helper) nya tinggi pula. Hal ini menggambarkan tinggi¬nya daya tahan imunologiknya yang bagus.
Penelitian yang mencari kaitan antara sholat tahajud dengan kesehatan telah dilakukan oleh Sholeh (2000), dan mendapatkan: bahwa mereka yang melaksanakan sholat tahajud secara rutin, setelah 4 minggu akan menunjukkan peningkatan kadar limfosit dan kadar imunoglobulin, dan terus meningkat sampai minggu ke delapan. Meningkatnya kadar limfosit dan imunoglobulin meng¬gambarkan makin tingginya daya tahan tubuh secara imunologik.
Pengaruh puasa Ramadhan terhadap kesehatan telah diteliti pula oleh Zainullah (2005), dengan sampel para santri suatu pondok pesantren. Penelitian dilakukan 3 minggu sebelum Ramadhan sampai dengan puasa hari ke-26. Penilaian terhadap substansi imunologik diambil pada hari -21 sebagai kontrol (tidak puasa), hari +5, +16 dan +26 sebagai kelompok perlakuan. Walau¬pun pada awal puasa hari +5 sebagian menunjukkan adanya stres, yang tergambar dengan meningkatnya kadar kortisol, setelah hari +16 dan +26 seluruh kelompok sudah menunjukkan respons imunologik yang sama yaitu ditandai dengan meningkatnya kadar limfosit, yang dapat diartikan meningkatnya daya tahan imunologik.
Sementara itu, Qalaji telah berhasil memperkuat keyakinan atas kebenaran salah satu ayat al Quran yaitu QS Al Isra’ (17) ayat 82, yang artinya:
”Dan telah aku turunkan (Al Quran) yang di dalamnya terdapat obat dan rahmat bagi orang mukmin”.
Melalui penelitiannya dengan menggunakan peralatan elektromedik secara komputerisasi. Bahwasanya orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran, baik mereka yang paham maupun yang tidak paham bahasa Arab akan mengalami penurunan intensitas tegangan otot mereka. Lebih nyata secara bermakna bila dibandingkan dengan bila mendengarkan bacaan nonquraniyah dengan cara yang sama, sedangkan tegangan otot dikendalikan oleh susunan syaraf pusat. Dari informasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: Hanya dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran yang dibacakan sudah dapat menyebabkan timbulnya ketenangan hati (Albar, 1992).
Bukti yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat pada umumnya adalah manfaat langsung aktivitas keagamaan terhadap kesehatan. Telah dilaporkan beberapa hasil penelitian klinis, baik secara umum, maupun secara khusus untuk penyakit tertentu, antara lain seperti tersebut di bawah ini.
Tentang depresi, terdapat bukti bahwa terdapat korelasi negatif antara tingkat religiusitas dengan skor depresi (Dervic dkk., 2003, Kendler dkk., 2003, Kiresuk & Trachtenberg, 2001, Van Ness, 2002) sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007).
Terhadap kesehatan kardiovaskuler, ada beberapa pendapat dan hasil penelitian, antara lain Larson (2000), yang mendapatkan bukti bahwa pasien dengan komitmen agama tinggi yang menga¬lami transplantasi jantung dalam pengamatan selama satu tahun menun¬juk¬kan survival rate nya lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak ada komitmen agama. Fathoni (2006) mendapatkan bukti bahwa orang dengan komitmen agama tinggi kadar CRP (C Reactive Protein) rendah sehingga berperan terhadap pence¬gahan terjadinya serangan penyakit jantung koroner. Juga rendahnya CRP dan IL-6 dapat dipakai sebagai prediktor baiknya prognosis pasien infark miokard (Fanani, 2007).
Peran doa terhadap penyembuhan pascaoperasi BPH (Benign Prostat Hyperttrophy) telah diteliti oleh (Akbar, 2006), yang mendapatkan bukti bahwa peningkatan pemahaman agama dan doa dapat membantu menekan intensitas depresi pada pasien. Demikian pula Jalaluddin (2006) mendapatkan pasien BPH yang mendapatkan ceramah agama dan bimbingan doa menunjukkan skor ansietas yang secara sigifikan lebih rendah dibanding dengan mereka yang tidak mendapatkan bimbingan keagamaan, sehingga mereka menyarankan perlunya peran bantuan rohaniwan dalam mempersiapkan pasien dengan BPH yang menghadapi operasi.
Kaitan tindakan bunuh diri, telah diteliti oleh Van Ness (2002), ternyata terdapat korelasi negatif antara komitmen agama dengan tindakan bunuh diri. Temuan tersebut senada dengan Puchalski (2001) sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) yang menyarankan menggunakan terapi spiritual termasuk religi untuk menekan perilaku bunuh diri.
Penelitian keefektifan terapi ruqyah telah diteliti oleh Ambarwati (2006), yang ternyata bagi pasien dengan diagnosis pelbagai jenis Skizofrenia, Retardasi Mental tidak memberikan respons bermakna. Demikian pula penelitian Fanani (2006) bahwa mereka yang dikirim oleh para terapis ruqyah kepada penulis (resisten terhadap terapi ruqyah) ternyata menunjukkan diagnosis Gangguan Skizofrenia, Epilepsi dan Retardasi Mental.
Upaya Pengendalian Jiwa
Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi: seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi).
Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu. Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafsnya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Quran di antaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Quran menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata taaqilun (berakal), dan 6 kali kata ruharwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb. Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkattingkat.
Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Quran: Pertama, nafs al-ammarah bi al-su, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu ini harus diperangi. Kedua, nafs allawwamah. Ini adalah nafs yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari qalb-nya, nafs menyadari kelemah annya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.
Tingkat ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya. Keempat, Nafs al-mutmainnah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.
Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku).
Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan. Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.
Begitulah jiwa manusia. Ada pergulat an antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Nabi Sufyan al-Thawri pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan: bisikan syetan (lammat asyaitan) dan bisikan malaikat (lammat al-malak).
Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Muadh al-Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang melukaimu maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi adalah jihad. Sabdanya Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah (al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi taat Allah azza wa jalla). (HR. Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabrani, Hakim dsb).
Kejahatan diri dalam al-Quran juga dianggap penyakit (QS 2:10). Sementara Nabi mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para ulama pun lantas berfikir kreatif. Ayat-ayat dan ajaranajaran Nabi pun dirangkai diperkaya sehingga membentuk struktur pra-konsep. Dari situ menjadi struktur konsep dan akhirnya menjadi disiplin ilmu. Ilmu tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Il mal Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa) atau tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan istilah al-Ilaj al-nafs (psychoteraphy).
Dalam Ilmu al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian pula penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga berkaitan dengan penyakit jiwa. Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa memiliki keserasian jiwa dan raga.
Jika badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir dan memahami, dan akan gagal menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau jiwa itu sakit maka badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa lama kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb al-Ruhani (kedokteran ruhani).
Jadi, hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan nabati saja, boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi. Itulah manusia yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya (misykat) bagi umat manusia.
PENUTUP
Sebagai penutup akan saya sampaikan simpulan dan saran sebagai berikut:
1. Simpulan
• Terapi spiritual lebih cenderung untuk menyentuh satu sisi spiritualitas manusia, mengaktifkan titik godspot dan mengembalikan klien ke sebuah kesadaran darimana dia berasal, alasan mengapa manusia diciptakan, tugas - tugas yang harus dilakukan manusia didunia, beberapa hal yang pantas dilakukan didunia, hal - hal yang tak pantas dilakukan didunia, mengembalikan manusia ke kesucian, mengembalikan sebuah kertas yang berisikan tulisan tinta kembali menjadi selembar kertas putih.
• Iman adalah inti dari agama dan dengan keimanan yang kuat maka orang akan ber-positIve thinking, self control & self esteem yang baik, memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, sehingga daya tahan mentalnya menjadi lebih baik.
• Komitmen terhadap agama yang tinggi dan peribadatan rutin yang dikerjakan dengan ikhlas meningkatkan ketahanan sistem imun.
• Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi.
2. Saran
Untuk meningkatkan keefektifan terapi psikiatri dan memperluas jangkauan pelayanan, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.
• Pelayanan medic kejiwaan sangat penting sehingga perlu perhatian yang lebih dari pemerintah/dinas kesehatan dengan melengkapi sarana dan dan prasarana yang refrensentatif.
• Dalam pelayanan medik klinik jiwa ada baiknya diterapi bersama rohaniwan.
• Keefektifan terapi religi dapat ditingkatkan dengan meninggikan tingkat keimanan pasien, antara lain dengan meningkatkan pemahaman dan penghayatan doktrin keagamaan, melaksanakan peribadatan sesuai dengan syariat dan meningkatkan kebersamaan dengan berjamaah (Fanani, 2006).
PENDAHULUAN
Dalam Undang-undang no 23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara social dan ekonomi. Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan secara klinis benar benar tidak sakit, semua organ tubuh normal dan berfungsi normal atau tidak ada gangguan fungsi tubuh. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 hal yakni pikiran, emosional dan spiritual. Pikiran yang sehat terlihat dari cara pikir seseorang yang logis, emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosionalnya missal, takut sedih atau gembira, spiritual yang baik terlihat dari praktek keagamaan seseorang, yakni kita bisa melaksanakan apa yang diajarkan dan menjauhi berbagai larangan. Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi seseorang atau kelompok lain tanpa melihat SARA, atau bisa terlihat dari sikap saling toleransi dan menghargai. Dengan kondisi sehat badan, jiwa dan social akan menumbuhkan terhadap sehat secara ekonomi, yakni terlihat dari produktivitas seseorang, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong hidupnya atau keluarganya secara financial. Dengan demikian tingkat kesehatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas suatu bangsa.
Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) pada Puncak Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Tahun 2008 di halaman kantor Walikota Bogor, 20-10-2008.. Hadir dalam acara ini para Pejabat di lingkungan Depkes, Depdagri, Depsos, Depdiknas, Depag, Perwakilan WHO Indonesia, dan LSM. menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa sangat mempengaruhi produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat yang tidak mungkin ditanggulangi oleh sektor kesehatan saja. Mutu SDM tidak dapat diperbaiki hanya dengan pemberian gizi seimbang namun juga perlu memperhatikan 3 aspek dasar yaitu fisik/jasmani (organo biologis), mental-emosional/jiwa (psikoedukatif), dan sosial-budaya/lingkungan (sosiokultural).
Dalam kesempatan tersebut, Menkes menyampaikan 5 pesan mengenai kesehatan jiwa Indonesia, yaitu :
1. Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan; tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.
2. Status kesehatan jiwa individu sangat menentukan kualitas hidup, karena status kesehatan jiwa yang buruk akan menurunkan indeks pembangunan manusia Indonesia.
3. Kesehatan jiwa harus terintegrasi ke dalam semua aspek kesehatan, kebijakan publik, perencanaan sistem kesehatan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
4. Penanggulangan masalah kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyrakat, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat serta penderita dan keluarganya.
5. Setiap warga negara harus memelihara kesehatan jiwa dan raganya agar dapat hidup dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.
Atas dasar definisi Kesehatan tersebut di atas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Dari unsur "badan" (organobiologik), "jiwa" (psiko-edukatif) dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dan "kesejahteraan" dan “produktivitas sosial ekonomi”.
Dan definisi tersebut juga tersirat bahwa "Kesehatan Jiwa" merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari "Kesehatan" dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh.
Menurut Undang-undang No 3 Tahun 1966 yang dimaksud dengan "Kesehatan Jiwa" adalah keadaan jiwa yang sehat menurut ilmu kedokteran sebagai unsur kesehatan, yang dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut:
"Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain". Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan- memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal, dan yang selaras dengan perkembangan orang lain.
Masalah jiwa, tentu saja masalah kerohanian atau nyawa dalam tubuh manusia. Jiwa adalah energi mental yang memiliki kekuatan untuk dapat memotivasi terjadinya proses perilaku yang menjadi bentukan aktivitas yang dilakukan sehari-hari . Tanpa jiwa, tentu manusia bukan apa-apa dan tidak disebut sebagai manusia. Karena itu mungkin jiwa adalah bagian dari manusia yang penting.
Pemahaman manusia tentang sebab-sebab terjadinya gangguan jiwa dari waktu ke waktu terus berkembang. Oleh karena itu, upaya penyembuhannya pun akan mengikuti perkembangan etiologinya. Pada abad ke-15 gangguan jiwa masuk dalam era demonologis yang menganggap gangguan jiwa adalah akibat guna-guna atau gangguan setan/roh jahat. Pada masa itu upaya penyembuhan dilakukan dengan mengusahakan agar setan-setan yang mengganggu manusia meninggalkan tubuh pasien, antara lain dengan dibacakan mantera, mengeluarkan darah dari tubuh pasien bahkan melubangi batok kepala (Colp R, 2001; Maramis, 1994).
Sampai dengan pertengahan abad 20 persepsi para tokoh atau ahli kesehatan pada umumnya memandang agama sebagai sisi negatif terhadap kesehatan jiwa. Maklumlah para pakar kesehatan jiwa pada waktu itu sebagian besar beraliran atheis, seperti Sigmund Freud, Albert Ellis dll. Pandangan mereka terhadap agama tercermin dalam beberapa pernyataan mereka antara lain menurut Sigmund Freud: ”A religious man is: an infantile helplessness, a regression to primary narcissism, a borderline psychosis, a primitive infantile state dan a universal obsessional neurotic. Sementara itu, menurut Albert Ellis, pemikiran orang beragama dianggap sebagai: irrational thinking and emotional disturbance (Larson, 2000).
Pada pertengahan abad ke-20 perkembangan bergeser kepada era fisikalistik, yang menganggap bahwa semua sebab penyakit adalah akibat dari ketidakseimbangan fisik-biologik, dan parameter kesakitan sudah barang tentu disandarkan pada parameter somatik dari pasien (Notosoedirdjo, 1999). Dengan demikian, upaya penyembuhan gangguan jiwa difokuskan dengan cara fisik-biologik pula. Pada fase ini perkembangan psikofarmakologi maju pesat sampai saat ini, di samping terapi kejang listrik (ECT). Namun demikian, perkembangan pesat di bidang psikofarmakologik dan terapi fisik lainnya tidak dapat menyembuhkan semua diagnosis gangguan jiwa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan hasil terapi gangguan jiwa terus dilakukan penyempurnaannya.
Mengingat bahwa hanya dengan mengandalkan aspek fisik-biologik saja banyak fenomena psikiatrik yang tidak dapat dijelaskan, maka Karen Horney mengajukan konsep holistik, yaitu terapi yang menyeluruh dalam penyembuhan gangguan jiwa. Jadi, selain memberikan terapi fisik-biologik, juga diberikan terapi psikologik dan terapi sosial. Pada era ini berkembang berbagai jenis psikoterapi, seperti psikoanalisis oleh Sigmund Freud, Existensial humanistik oleh Abraham Maslow, Client Centered oleh Carl Rogers, Terapi Gestalt oleh Fritz Perls, Analisis Transaksional oleh Eric Berne, Terapi Tingkah laku oleh Wolpe dan BF Skinner, Terapi Rasional Emotif oleh Albert Ellis, serta Terapi Realitas oleh Williams Glaser.(Corey, 1999., Maramis, 1994). Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini ternyata masih belum mampu diselesaikan berbagai masalah kesehatan jiwa baik ditinjau dari faktor etiologi maupun faktor terapinya.
Oleh karena itu, upaya untuk menyempurnakan penyelesaian masalah gangguan jiwa terus dilakukan, sehingga pada awal tahun 1980-an peran budaya, spiritual dan keagamaan mulai mendapat perhatian. Sejak tahun 1994 secara resmi WHO memasukkan aspek spiritual sebagai salah satu komponen dalam upaya memperoleh sehat jiwa, dan sejak itu konsep holistik dilengkapi menjadi: bio-psiko-sosio-spiritual (Hawari, 2005). Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) ketika membahas Cultural Psychiatry dalam Comprehensive Textbook of Psychiatry menyatakan bahwa faktor spiritualitas yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa meliputi pelbagai aspek, termasuk di dalamnya adalah aspek keagamaan. Juga dikatakan bahwa modalitas agama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keefektifan terapi personal nonspesifik terhadap pasien dengan gangguan jiwa.
Agama sangat penting dalam mengatasi masalah gangguan kejiwaan manusia karena dengan agama manusia dibimbing dalam kehidupannya. Masalah gangguan jiwa adalah akibat ketidakmapanan seseorang dalam berpersepsi dan mengeksistensikan dirinya dalam kehidupan ini. Dengan agama orang akan ber-positIve thinking, self control & self esteem yang baik, memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, sehingga daya tahan mentalnya menjadi lebih baik.
Mengingat bahwa peran agama dalam peningkatan kesehatan jiwa sangat penting tetapi sampai sekarang masih termarjinalkan keberadaanyannya, maka dalam kesempatan ini penulis membahas “Peranan agama dalam terapi kejiwaan”. Oleh karena bagaimanapun peranan agama bagi kehidupan tidak bisa dipisahkan secara fitrah kemanusian.
MASALAH GANGGUAN JIWA
Menurut American Psychiatric Association (APA, 1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distres (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.
Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive terhadap stresor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.
Oleh karena itu Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (www.dinkes-dki.go.id.htm).
Kesehatan jiwa meliputi:
1) Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
2) Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
3) Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari-hari
Gejala Gangguan Jiwa (Maramis, 1995) :
1. Gangguan kesadaran
a. Penurunan kesadaran
(1) Apati
Mengantuk dan acuh-tak-acuh terhadap rangsang yang masuk; diperlukannya rangsang yang sedikit lebih keras dai biasanya untuk menarik perhatiannya.
(2) Somnolensi
Jelas sudah lebih mengantuk dan rangsang yang lebih keras lagi diperlukan untuk menarik perhatiannya.
(3) Sopor
Hanya berespon dengan rangsang yang keras; ingatan, orientasi, dan pertimbangan sudah hilang.
(4) Subkoma dan koma
Tidak ada lagi respons terhadap rangsang yang keras; bila sudah dalam sekali, maka reflek pupil (yang sudah melebar) dan reflex muntah hilang lalu timbullah reflex patologik.
b. Kesadaran yang meninggi
Kesadaran yang meninggi adalah keadaan dengan respons yang meninggi terhadap rangsang: suara-suara terdengar lebih keras, warna-warni kelihatan lebih terang: disebabkan oleh berbagai zat yang merangsang otak.
c. Tidur
Gangguan tidur dapat berupa: insomnia, berjalan waktu tidur, mimpi buruk, narkolepsi, kelumpuhan tidur.
d. Hipnosa
Kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya menerima rangsang hanya dari sumber tertentu saja) melalui sugesti; mirip tidur dan ditandai oleh mudahnya disugesti; setelah itu timbul amnesia.
e. Disosiasi
Adalah sebagian tingkah laku atau kejadian memisahkan dirinya secara psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagian atau total. Disosiasi dapat berupa: trans, senjakala histerik, fugue, serangan histerik, sindroma ganser, menulis otomatis.
f. Kesadaran yang berubah
Tidak normal, tidak menurun, tidak meninggi, bukan disosiasi, tetapi kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan terhadap dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kwalitatif), seperti pada psikosa fungsional.
g. Gangguan Perhatian
Tidak mampu memusatkan (memfokus) perhatian pada hanya satu hal/keadaan, atau lamanya memusatkan perhatian itu berkurang daya konsentrasi terganggu.
2. Gangguan ingatan
Ingatan berdasarkan tiga proses utama, yaitu pencatatan atau registrasi, penahanan atau resistensi, dan pemanggilan kembali atau recall. Gangguan ingatan terjadi bila terdapat gangguan pada salah satu atau lebih dari ketiga unsur tersebut.
a. Gangguan ingatan umum
Gangguan ingatan tidak terbatas pada suatu waktu tertentu saja dan dapat meliputi: kejadian yang baru saja terjadi dan kejadian yang sudah lama berselang terjadi.
b. Amnesia
Adalah ketidakmampuan mengingat kembali pengalaman, mungkin bersifat sebagian atau total, serta retrograd atau anterograd.
c. Paramnesia
Adalah ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali (recall).
d. Hipermnesia
Adalah penahanan dalam ingatan dan pemanggilan kembali (arecall).
3. Gangguan orientasi
Orientasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenal lingkungannya serta hubungannya dalam waktu dan ruang terhadap dirinya sendiri dan juga hubungan dirinya sendiri dengan orang lain. Disorientasi atau gangguan orientasi timbul sebagai akibat gangguan kesadaran dan dapat menyangkut waktu, tempat, atau orang.
4. Gangguan afek dan emosi
Afek adalah nada perasaan, menyenangkan, atau tidak menyenangkan, yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. Emosi adalah manifestasi afek ke luar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik, lagi pula biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya: ketakutan, kecemasan, depresi dan kegembiraan). Bilamana afek dan emosi itu sudah begitu keras, sehingga fungsi individu itu terganggu, maka dikatakan telah terjadi gangguan afek atau emosi yang dapat berupa:
a. Depresi
Depresi dengan komponen psikologik, misalnya: rasa sedih, susah, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan yang patologis; dan komponen somatik, misalnya: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan nadi menurun sedikit.
b. Kecemasan dan ketakutan
Kecemasan dapat dibedakan kecemasan (tidak jelas cemas terhadap apa) dari ketakutan atau fear (jelas atau tahu takut terhadap apa). Komponen psikologiknya dapat berupa: khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takut, lekas terkejut, sedangkan komponen jenis somatiknya misalnya: palpitasi, keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, respons kulit terhadap aliran listrik galvanik berkurang, peristaltik bertambah, lekositosis.
Kecemasan dapat berupa:
(1) Kecemasan yang mengambang ( free-floating anxiety); kecemasan yang menyerap dan tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran;
(2) Agitasi: kecemasan yang disertai kegelisahan motorik yang hebat;
(3) Panik: serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan dan hiperaktivitas yang tidak terorganisasi.
c. Efori
Rasa riang, gembira, senang, bahagia yang berlebihan; bila tidak sesuai dengan keadaan maka ini menunjukkan adanya gangguan jiwa; jika lebih keras lagi dinamakan elasi dan jika keras sekali dinamakan exaltasi.
d. Anhedonia
Ketidakmampuan merasakan kesenangan, tidak timbul perasaan senang dengan aktivitas yang biasanya menyenangkan baginya.
e. Kesepian
Merasa dirinya ditinggalkan.
f. Kedangkalan
Kemiskinan afek dan emosi secara umum (berkurang, secara kwantitatif); dapat digambarkan juga sebagai datar, tumpul, atau dingin yang sama maksudnya; istilah-istilah ini tidak menunjukkan gradasi. Umpamanya kedangkalan emosi ialah tidak atau hanya sedikit merasa / kelihatan gembira atau sedih dalam keadaan atau mengenai sesuatu hal yang benar-benar menggembirakan atau menyedihkan.
g. Afek atau emosi tak wajar
Tak wajar atau tak patut dalam situasi tertentu (terganggu secara kwalitatif), umpamanya ketawa terkikih-kikih waktu wawancara. Bila extrim akan menjadi inadequate, yaitu afek dan emosi yang bertentangan dengan keadaan atau isi pikiran dan dengan isi bicara.
h. Afek atau emosi labil
Berubah-ubah secara cepat tanpa pengawasan yang baik, umpamanya tiba-tiba marah-marah atau menangis.
i. Variasi afek atau emosi sepanjang hari
Perubahan afek dan emosi mulai sejak pagi sampai malam hari. Umpanya, pada psikosa manik-depresi maka jenis depresinya lebih keras pada pagi hari dan menjadi lebih ringan pada sore hari.
j. Ambivalensi
Emosi dan afek yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap seorang, suatu obyek atau suatu hal.
k. Apati
Berkurangnya afek dan emosi terhadap sesuatu atau terhadap semua hal dengan disertai rasa terpencil dan tidak peduli.
l. Amarah, kemurkaan, dan permusuhan
Sering dinyatakan dalam sifat agresi. Bila ditujukkan kepada pemecahan masalah dan dipakai sebagai pembelaan terhadap suatu serangan yang yata, maka agresi itu konstruktif sifatnya. Agresi itu menjadi: patologik bila tidak realistik, menghancurkan dirinya sendiri, tidak ditujukan kepada pemecahan masalah dan jika merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.
5. Gangguan psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa: jadi merupakan efek bersama yang mengenai badan dan jiwa. Gangguan psikomotorik dapat berupa:
a. kelambatan
Secara umum gerakan dan reaksi menjadi lambat.
b. Peningkatan
Aktivitas dan reaksi umum meningkat.
c. Tik (tic)
Gerakan involunter, sekejap serta berkali-kali mengenai sekelompok otot atau bagian badan yang relatif kecil.
d. Bersikap aneh
Dengan sengaja mengambil sikap atau posisi badan yang tidak wajar, yang aneh atau bizar.
e. Grimas
Mimik yang aneh dan berulang-ulang.
f. Stereotipi
Gerakan salah satu anggota badan yang berkali-kali dan tidak bertujuan.
g. Pelagakan (mannerism)
Pergerakan atau lagak yang stereotip dan teatral (seperti sedang bermain sandiwara).
h. Ekhopraxia
Langsung meniru pergerakan orang lain pada saat dilihatnya; ekholalia: langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.
i. Otomatisma perintah (command automatism)
Menuruti sebuah perintah secara otomatis tanpa memikir dulu.
j. Otomatisma
Berbuat sesuatu secara otomatis sebagai pernyataan (expresi) simbolik aktivitas tak sadar.
k. Negativisme
Menentang nasihat atau permintaan orang lain atau melakukan yang berlawanan dengan itu.
l. Kataplexia
Tonus otot menghilang dengan mendadak dan sejenak, juga timbul kelemahan umum dengan atau tanpa penurunan kesadaran, yang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan emosi.
m. Gangguan somatomotorik pada reaksi konversi
Menggambarkan secara simbolik suatu konflik emosional dan dapat berupa:
(1) Kelumpuhan
(2) pergerakan yang abnormal, umpamanya tremor, tik, kejang-kejang atau ataxia
(3) astasia-abasia: tidak dapat duduk, berdiri dan berjalan.
n. Verbigerasi
Berkali-kali mengucapkan sebuah kata yang sama.
o. Berjalan
Tidak tegap, kaku (rigid)atau lambat
p. Gangguan motorik
Yang sebenarnya bukan merupakan gangguan psikomotor, yang mungkin sekali disebabkan oleh: pemakaian obat (umpamanya: tremor, hipokinesa, diskinesa, akatisia, karena neroleptika), gangguan ortopedik atau gangguan nerologik.
q. Kompulsi
Suatu dorongan yang mendesak berkali-kali, biarpun tidak disukai, agar berbuat yang bertentangan dengan keinginannya sehari-hari atau dengan kebiasaan serta norma-norma.
r. Gagap
Berbicara dengan terhenti-henti karena spasme otot-otot untuk bicara, mulai dari berbicara sangat ragu-ragu sampai dengan berbicara explosif.
6. Gangguan proses berpikir
Proses berpikir meliputi proses pertimbangan (judgment), pemahaman (comprehension), ingatan, serta penalaran.
a. Gangguan bentuk pikiran:
Dalam kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan terarah kepada tujuan.
(1) Dereisme
Titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.
(2) Pikiran otistik
Menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dai dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi.
(3) Bentuk pikir yang non-realistik
Bentuk piker yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umpamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler/ revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal.
b. Gangguan arus pikir
Yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran, yang timbul dalam berbagai jenis:
(1) Perseverasi
Berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan.
(2) Asosiasi longgar
Mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain.
(3) Inkoherensi
Gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimatpun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya.
(4) Kecepatan bicara
Untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
(5) Benturan (blocking)
Jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti ditengah sebuah kalimat.
(6) Logorea
Banyak bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa kontrol, mungkin koheren ataupun incoherent.
(7) Pikiran melayang (flight of ideas)
Perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh idea yang lain.
(8) Asosiasi bunyi (lang association)
Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, umpamanya pernah didengar.
(9) Neologisme
Membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum.
(10) Irelevansi
Isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
(11) Pikiran berputar-putar
Menuju secara tidak langsung kepada idea pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remah yang menjemukan dan yang tidak relevan.
(12) Main-main dengan kata-kata
Membuat sajak secara tidak wajar.
(13) Afasi
Mungkin sensorik (tidak atau sukar mengerti bicara orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar berbicara
PERANAN AGAMA BAGI MANUSIA
Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada di dalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupan sehari-hari atau Ikhsan (Hawari, 2002). Sementara itu, Lubis (2002) menjelaskan bahwa orang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakan didasari oleh kerelaan, mempunyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya, Lubis menyatakan bahwa agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saat menghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pemberi sarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan berperilaku baik terhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-Nya.
Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakan salah satu ciri sehat mental.
Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mengusulkan ada beberapa mekanisme keagamaan untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1. mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki persepsi ke arah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007), orang dengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ketahanan mentalnya karena memiliki self control, self esteem & confidence yang tinggi. Juga mereka mampu mempercepat penyembuhan ketika sakit karena mereka mampu meningkatkan potensi diri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.
Dervic sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mendapatkan bukti dalam penelitiannya, bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas tinggi ternyata menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, dan sebaliknya skor agresivitas dan impulsivitasnya rendah.
Umumnya para penganut agama akan melakukan kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya secara bersama-sama. Dan kegiatan bersama seperti ini dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan solidaritas antar jamaah. Oleh karena itu, Abernethy mengatakan bahwa orang yang memiliki komitmen agama yang tinggi akan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi pula, sedangkan Dervic menyatakan bahwa orang dengan komitmen agama yang tinggi dapat diharapkan memiliki moralitas yang terpuji pula. Penelitian Kendler sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) mendapatkan pada orang-orang yang komitmen agamanya tinggi ketaatan terhadap norma sosialnya tinggi pula. Juga terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor religiusitas dan skor perilaku antisosial. Menurut Culliford, orang yang tingkat religiusitasnya tinggi kualitas hidupnya diharapkan juga tinggi. Hal ini tercermin pada hubungan sosial dengan masyarakat yang baik, keberadaannya dapat diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya. Dervic mendapatkan bukti dalam penelitiannya bahwa orang dengan skor religiusitas tinggi, pada umumnya dapat membina keharmonisan keluarga, dan pada umumnya dapat membina hubungan yang baik di antara keluarga.
Terdapat pertanyaan yang cukup mendasar tentang peran keagamaan terhadap perubahan fisik–biologik, sebagaimana dituntut oleh para pakar yang berorientasi fisikalistik. Namun, akhir-akhir ini telah banyak penelitian yang dapat mengungkap masalah ini. Temuan Emoto sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) yang mendapatkan bukti bahwa dengan perkataan yang baik dan halus sebagaimana perkataan orang yang sedang berdoa dapat mengubah partikel air menjadi kristal heksagonal yang indah, dan selanjutnya bermanfaat dalam upaya kesehatan secara umum. Sebaliknya, dengan perkataan yang kasar seperti hinaan atau cemoohan akan menyebabkan kristal-kristal air menjadi buruk.
Dari informasi ini dapat diperkirakan ada kaitan antara potensi internal manusia dengan kondisi eksternal yang berada di alam semesta. Potensi internal ini diduga berada pada lobus frontalis yang oleh Ramachandran disebut sebagai God spot (Hawari, 2002). Penelitian yang lebih cermat untuk mencari lokasi God spot telah dilakukan oleh Borg melalui pencitraan otak menggunakan PET (Positron Emision Tomography-Radio ligand) untuk mengukur kepadatan reseptor 5HT1A yang diduga berperan dalam pengendalian perilaku manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas/spiritualitas yang tinggi ternyata kepadatan reseptor 5HT1A mereka rendah di regio nukleus raphe dorsalis, hippokampus, dan neo¬korteks. Hal ini yang diduga bertanggungjawab atas perilaku tenang pada orang dengan komitmen agama tinggi (Fanani, 2007).
Penelitian dari aspek psikoneuroimunologik yang terkait langsung dengan aktivitas peribadatan dengan kesehatan jiwa pada umumnya menunjukkan adanya korelasi positif. Beberapa hasil penelitian tersebut antara lain: Abernethy sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) menyatakan bahwa orang-orang dengan skor religiusitas tinggi kadar CD-4 (limfosit T helper) nya tinggi pula. Hal ini menggambarkan tinggi¬nya daya tahan imunologiknya yang bagus.
Penelitian yang mencari kaitan antara sholat tahajud dengan kesehatan telah dilakukan oleh Sholeh (2000), dan mendapatkan: bahwa mereka yang melaksanakan sholat tahajud secara rutin, setelah 4 minggu akan menunjukkan peningkatan kadar limfosit dan kadar imunoglobulin, dan terus meningkat sampai minggu ke delapan. Meningkatnya kadar limfosit dan imunoglobulin meng¬gambarkan makin tingginya daya tahan tubuh secara imunologik.
Pengaruh puasa Ramadhan terhadap kesehatan telah diteliti pula oleh Zainullah (2005), dengan sampel para santri suatu pondok pesantren. Penelitian dilakukan 3 minggu sebelum Ramadhan sampai dengan puasa hari ke-26. Penilaian terhadap substansi imunologik diambil pada hari -21 sebagai kontrol (tidak puasa), hari +5, +16 dan +26 sebagai kelompok perlakuan. Walau¬pun pada awal puasa hari +5 sebagian menunjukkan adanya stres, yang tergambar dengan meningkatnya kadar kortisol, setelah hari +16 dan +26 seluruh kelompok sudah menunjukkan respons imunologik yang sama yaitu ditandai dengan meningkatnya kadar limfosit, yang dapat diartikan meningkatnya daya tahan imunologik.
Sementara itu, Qalaji telah berhasil memperkuat keyakinan atas kebenaran salah satu ayat al Quran yaitu QS Al Isra’ (17) ayat 82, yang artinya:
”Dan telah aku turunkan (Al Quran) yang di dalamnya terdapat obat dan rahmat bagi orang mukmin”.
Melalui penelitiannya dengan menggunakan peralatan elektromedik secara komputerisasi. Bahwasanya orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran, baik mereka yang paham maupun yang tidak paham bahasa Arab akan mengalami penurunan intensitas tegangan otot mereka. Lebih nyata secara bermakna bila dibandingkan dengan bila mendengarkan bacaan nonquraniyah dengan cara yang sama, sedangkan tegangan otot dikendalikan oleh susunan syaraf pusat. Dari informasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: Hanya dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran yang dibacakan sudah dapat menyebabkan timbulnya ketenangan hati (Albar, 1992).
Bukti yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat pada umumnya adalah manfaat langsung aktivitas keagamaan terhadap kesehatan. Telah dilaporkan beberapa hasil penelitian klinis, baik secara umum, maupun secara khusus untuk penyakit tertentu, antara lain seperti tersebut di bawah ini.
Tentang depresi, terdapat bukti bahwa terdapat korelasi negatif antara tingkat religiusitas dengan skor depresi (Dervic dkk., 2003, Kendler dkk., 2003, Kiresuk & Trachtenberg, 2001, Van Ness, 2002) sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007).
Terhadap kesehatan kardiovaskuler, ada beberapa pendapat dan hasil penelitian, antara lain Larson (2000), yang mendapatkan bukti bahwa pasien dengan komitmen agama tinggi yang menga¬lami transplantasi jantung dalam pengamatan selama satu tahun menun¬juk¬kan survival rate nya lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak ada komitmen agama. Fathoni (2006) mendapatkan bukti bahwa orang dengan komitmen agama tinggi kadar CRP (C Reactive Protein) rendah sehingga berperan terhadap pence¬gahan terjadinya serangan penyakit jantung koroner. Juga rendahnya CRP dan IL-6 dapat dipakai sebagai prediktor baiknya prognosis pasien infark miokard (Fanani, 2007).
Peran doa terhadap penyembuhan pascaoperasi BPH (Benign Prostat Hyperttrophy) telah diteliti oleh (Akbar, 2006), yang mendapatkan bukti bahwa peningkatan pemahaman agama dan doa dapat membantu menekan intensitas depresi pada pasien. Demikian pula Jalaluddin (2006) mendapatkan pasien BPH yang mendapatkan ceramah agama dan bimbingan doa menunjukkan skor ansietas yang secara sigifikan lebih rendah dibanding dengan mereka yang tidak mendapatkan bimbingan keagamaan, sehingga mereka menyarankan perlunya peran bantuan rohaniwan dalam mempersiapkan pasien dengan BPH yang menghadapi operasi.
Kaitan tindakan bunuh diri, telah diteliti oleh Van Ness (2002), ternyata terdapat korelasi negatif antara komitmen agama dengan tindakan bunuh diri. Temuan tersebut senada dengan Puchalski (2001) sebagaimana dikutip oleh Fanani (2007) yang menyarankan menggunakan terapi spiritual termasuk religi untuk menekan perilaku bunuh diri.
Penelitian keefektifan terapi ruqyah telah diteliti oleh Ambarwati (2006), yang ternyata bagi pasien dengan diagnosis pelbagai jenis Skizofrenia, Retardasi Mental tidak memberikan respons bermakna. Demikian pula penelitian Fanani (2006) bahwa mereka yang dikirim oleh para terapis ruqyah kepada penulis (resisten terhadap terapi ruqyah) ternyata menunjukkan diagnosis Gangguan Skizofrenia, Epilepsi dan Retardasi Mental.
Upaya Pengendalian Jiwa
Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi: seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi).
Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu. Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafsnya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Quran di antaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Quran menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata taaqilun (berakal), dan 6 kali kata ruharwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb. Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkattingkat.
Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Quran: Pertama, nafs al-ammarah bi al-su, atau nafsu pendorong kejahatan. Ini adalah tingkat nafs paling rendah yang melahirkan sifat-sifat seperti takabbur, kerakusan, kecemburuan, nafsu syahwat, ghibah, bakhil dsb. Nafsu ini harus diperangi. Kedua, nafs allawwamah. Ini adalah nafs yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafs yang pertama. Dengan adanya bisikan dari qalb-nya, nafs menyadari kelemah annya dan kembali kepada kemurniannya. Jika ini berhasil maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat diatasnya.
Tingkat ketiga adalah Nafs al-Mulhamah atau jiwa yang terilhami. Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika nafs ini merasa terpuruk kedalam kenistiaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya. Keempat, Nafs al-mutmainnah atau jiwa yang tenang. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.
Kelima, Nafs al-Radhiyah atau jiwa yang ridha. Pada tingkatan ini jiwa telah ikhlas menerima keadaan dirinya. Rasa hajatnya kepada Allah begitu besar. Jiwa inilah yang diibaratkan dalam doa: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi (Tuhanku engkau tujuanku dan ridhaMu adalah kebutuhanku).
Keenam, Nafs al-Mardhiyyah, adalah jiwa yang berbahagia. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, dorongan perut dan syhawatnya tidak lagi bergejolak dominan. Ketujuh, Nafs al-Safiyah adalah jiwa yang tulus murni. Pada tingkat ini seseorang dapat disifati sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya. Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang.
Begitulah jiwa manusia. Ada pergulat an antara jiwa hewani yang jahat dengan jiwa yang tenang. Ada peningkatan pada jiwa-jiwanya yang tenang itu. Sahabat Nabi Sufyan al-Thawri pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih kuat dari nafsunya; terkadang nafsu itu memusuhinya dan terkadang membantunya. Ibn Taymiyyah menggambarkan pergulatan itu bersumber dari dua bisikan: bisikan syetan (lammat asyaitan) dan bisikan malaikat (lammat al-malak).
Perang melawan nafsu jahat banyak caranya. Sahabat Nabi Yahya ibn Muadh al-Razi memberikan tipsnya. Ada empat pedang untuk memerangi nafsu jahat: makanlah sedikit, tidurlah sedikit, bicaralah sedikit dan sabarlah ketika orang melukaimu maka nafs atau ego itu akan menuruti jalan ketaatan, seperti penunggang kuda dalam medan perang. Memerangi nafsu jahat ini menurut Nabi adalah jihad. Sabdanya Pejuang adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah (al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi taat Allah azza wa jalla). (HR. Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Tabrani, Hakim dsb).
Kejahatan diri dalam al-Quran juga dianggap penyakit (QS 2:10). Sementara Nabi mengajarkan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Para ulama pun lantas berfikir kreatif. Ayat-ayat dan ajaranajaran Nabi pun dirangkai diperkaya sehingga membentuk struktur pra-konsep. Dari situ menjadi struktur konsep dan akhirnya menjadi disiplin ilmu. Ilmu tentang jiwa atau nafs itu pun lahir dan disebut Ilm-al Nafs, atau Il mal Nafsiyat (Ilmu tentang Jiwa). Ketika Ilmu al-Nafs berkaitan dengan ilmu kedokteran (tibb), maka lahirlah istilah al-tibb al-ruhani (kesehatan jiwa) atau tibb al-qalb (kesehatan mental). Tidak heran jika penyakit gangguan jiwa diobati melalui metode kedokteran yang dikenal dengan istilah al-Ilaj al-nafs (psychoteraphy).
Dalam Ilmu al-Nafs ditemukan bahwa raga dan jiwa berkaitan erat, demikian pula penyakitnya. Psikolog Muslim asal Persia Abu Zayd Ahmed ibn Sahl al-Balkhi (850-934), menemukan teori bahwa penyakit raga berkaitan dengan penyakit jiwa. Alasannya, manusia tersusun dari jiwa dan raga. Manusia tidak dapat sehat tanpa memiliki keserasian jiwa dan raga.
Jika badan sakit, jiwa tidak mampu berfikir dan memahami, dan akan gagal menikmati kehidupan. Sebaliknya, jika nafs atau jiwa itu sakit maka badannya tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Sakit jiwa lama kelamaan dapat menjadi sakit fisik. Itulah sebabnya ia kecewa pada dokter yang hanya fokus pada sakit badan dan meremehkan sakit mental. Maka dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia mengenalkan istilah al-Tibb al-Ruhani (kedokteran ruhani).
Jadi, hakekatnya manusia yang dikuasai oleh dorongan nafsu hewani dan nabati saja, boleh jadi sedang sakit. Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi. Itulah manusia yang selama hidupnya menjadi sinar cahaya (misykat) bagi umat manusia.
PENUTUP
Sebagai penutup akan saya sampaikan simpulan dan saran sebagai berikut:
1. Simpulan
• Terapi spiritual lebih cenderung untuk menyentuh satu sisi spiritualitas manusia, mengaktifkan titik godspot dan mengembalikan klien ke sebuah kesadaran darimana dia berasal, alasan mengapa manusia diciptakan, tugas - tugas yang harus dilakukan manusia didunia, beberapa hal yang pantas dilakukan didunia, hal - hal yang tak pantas dilakukan didunia, mengembalikan manusia ke kesucian, mengembalikan sebuah kertas yang berisikan tulisan tinta kembali menjadi selembar kertas putih.
• Iman adalah inti dari agama dan dengan keimanan yang kuat maka orang akan ber-positIve thinking, self control & self esteem yang baik, memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, sehingga daya tahan mentalnya menjadi lebih baik.
• Komitmen terhadap agama yang tinggi dan peribadatan rutin yang dikerjakan dengan ikhlas meningkatkan ketahanan sistem imun.
• Manusia sehat adalah manusia yang nafsunya dikuasai oleh akalnya, qalb-nya untuk taat pada Tuhannya. Itulah insan kamil yang memiliki jiwa yang tenang, yang kembali pada Tuhan dan masuk surganya dengan ridho dan diridhoi.
2. Saran
Untuk meningkatkan keefektifan terapi psikiatri dan memperluas jangkauan pelayanan, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.
• Pelayanan medic kejiwaan sangat penting sehingga perlu perhatian yang lebih dari pemerintah/dinas kesehatan dengan melengkapi sarana dan dan prasarana yang refrensentatif.
• Dalam pelayanan medik klinik jiwa ada baiknya diterapi bersama rohaniwan.
• Keefektifan terapi religi dapat ditingkatkan dengan meninggikan tingkat keimanan pasien, antara lain dengan meningkatkan pemahaman dan penghayatan doktrin keagamaan, melaksanakan peribadatan sesuai dengan syariat dan meningkatkan kebersamaan dengan berjamaah (Fanani, 2006).
Label:
ES artikel campur
Senin, 30 November 2009
Mencari Keberkahan Rezeki
Setiap kita pasti berharap, agar bisa mendapatkan rezeki yang halal, dan berkah. Yaitu mendapat barakah dari Allah, sehingga bisa mencukupi kebutuhan, dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Di zaman moderen ini, berbagai cara untuk mendapatkan rezeki, semakin kompleks. Dari kesemuanya itu, ada yang hukumnya halal, haram, maupun subhat.
Cara mencari rezeki yang halal, tentunya dengan jalan yang tidak melanggar syariat-syariat Allah, misalnya bertani, berdagang barang-barang yang halal dan mubah, atau bekerja halal sesuai dengan ketrampilan yang kita miliki.
Adapun rezeki yang haram, misalnya yang diperoleh dari riba, judi, penipuan, jual beli barang haram, serta dari berbagai sektor maksiat (misalnya dunia musik, keartisan, pamer aurat, hingga menjual kehormatan), tindak kriminal, juga dari jalan syirik atau perdukunan. Sedangkan rezeki yang subhat, adalah yang cara memperolehnya diragukan kehalalannya, atau masih samar-samar antara halal dan haram.
Misalnya, rezeki dari orang yang bekerja di suatu perusahaan atau media, yang visi dan missinya tidak senantiasa sejalan dengan Islam, bahkan sering berlawanan. Atau rezeki yang diperoleh dengan cara mengikuti bisnis MLM yang terkadang dianggap merugikan bagi sebagian pihak tertentu, atau yang diperoleh dari berbagai cara yang ternyata bila diteliti lebih jauh, diragukan kehalalannya. Dengan menjadi pialang saham, misalnya, yang oleh sebagian ulama dikatakan identik dengan judi.
Untuk meraih keberkahan rezeki, tentunya sebisa mungkin kita harus menghindari hal-hal yang subhat, apalagi haram. Karena itu, dalam berusaha "menjemput rezeki", kita harus memperhatikan hal-hal berikut:
PASTIKAN KEHALALANNYA
Kehalalan, harus menjadi prioritas kita dalam mencari rezeki. Jangan sampai makanan yang masuk dalam tubuh kita sekeluarga, berasal dari rezeki yang haram. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa setiap daging yang diberi makan dari yang haram, tempatnya adalah di neraka. Na'udzubillah....
Jadi sebisa mungkin, berbagai sektor kerja yag berbau haram atau subhat harus kita hindari. Jangan tergiur untuk mendapatkan uang atau keuntungan dengan mudah, bila harus menggunakan cara yang haram. Insyaallah, rezeki yang sedikit tetapi diperoleh dengan cara halal, akan lebih berkah dan bermanfaat daripada hasil yang banyak, namun diperoleh dengan cara haram.
TIDAK MENZHALIMI/MERUGIKAN ORANG LAIN
Keberkahan akan sulit kita peroleh, bila cara kita dalam mencari rezeki, dengan menzhalimi atau merugikan orang lain. Berbagai praktik riba, penipuan, dan mengambil barang orang lain tanpa hak, itu adalah cara-cara yang menzhalimi oang lain. Allah melarang keras pada umat-Nya, agar tidak menempuh cara ini.
Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zhalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (an-Nisa': 29-30)
Selain itu kita juga harus ingat, bahwa doa orang yang terzhalimi akan dikabulkan oleh Allah. Jadi, bila orang yang kita zhalimi itu mendoakan keburukan bagi kita, maka kemungkinan besar keburukan itu akan menimpa kita.
IRINGI DENGAN TAKWA DAN TAWAKAL
Halangan dan rintangan, adakalanya akan menyertai langkah kita dalam mencari rezeki. Kita harus bisa bersabar menghadapi semua itu. Pun harus tetap menjaga ketakwaan dan ketawakkalan kita. Karena Allah berfirman,
"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya; dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (ath-Thalaq: 2-3)
Demikian pula jika ternyata Allah memberi kita kelapangan, dan mempermudah jalan rezeki kita, maka kita tak boleh lupa untuk senantiasa mensyukurinya. Jangan sampai kemudahan itu melalaikan kita dari-Nya.
JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
Sesungguhnya rezeki kita semua sudah ditentukan oleh Allah. Jangankan kita manusia, rezeki seluruh binatang melata di muka bumi ini pun sudah dijamin oleh Allah. Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, yang Maha Luas karunia-Nya. Allah berfirman,
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (az-Zumar: 53)
Yakinlah bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman-Nya,
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain); dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (al-Insyirah 5-8)
TIPS BAGI PEKERJA DAN PEBISNIS
Berikut ini beberapa tips praktis untuk meraih keberkahan, bagi Anda yang berprofesi sebagai pekerja/karyawan, dan juga pebisnis/pedagang.
* Untuk Anda yang pekerja/ karyawan, tentu telah mendapatkan gaji sesuai ketentuan yang berlaku, di tempat Anda bekerja. Karena itu, bertakwalah kepada Allah. Jangan sampai Anda tergoda untuk berbuat tidak jujur, misalnya melakukan korupsi, suap-menyuap, manipulasi data, dan sebagainya. Berusahalah untuk bekerja sebaik-baiknya, dan sejujur-jujurnya.
* Untuk Anda yang pebisnis/pedagang, Anda harus selalu mengutamakan servis terhadap konsumen. Lakukan 5 hal berikut, yang insyaallah bisa mendatangkan berkah.
1. Berusahalah untuk selalu bersikap ramah dalam melayani konsumen, juga kepada siapa saja. Jadilah orang yang murah senyum, karena senyum adalah sedekah. Insyaallah jika hal ini Anda lakukan, banyak orang yang akan merasa senang terhadap diri dan pribadi Anda. Hal ini tentu akan berdampak positif pada kelancaran usaha Anda.
2. Permudahlah setiap transaksi atau urusan dengan orang lain, dan jangan suka mempersulit. Dengan begitu, insyaallah, Allah pun akan mempermudah urusan Anda.
3. Rajin-rajinlah bersilaturrahmi kepada sanak kerabat, atau mengunjungi teman-teman dan tetangga. Karena berdasarkan hadits Rasulullah n, silaturrahmi bisa menambah rezeki, dan memperpanjang usia....
4. Rajin-rajinlah bersedekah, karena dalam harta kita ada hak orang miskin. Sedekah kita, insyaallah akan "membersihkan" harta kita. Sedekah juga aka mendatangkan keberkahan, karena Allah l akan melipatgandakan harta yang kita sedekahkan dengan ikhlas.
5. Bersyukurlah atas apa yang telah kita peroleh. Sungguh, bila kita pandai bersyukur, maka insyaallah Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya bila kita ingkar dan lupa bersyukur, maka adzab Allah sudah menanti....
Selain melakukan 5 hal di atas, bila Anda memiliki pesaing, maka bersainglah dengan sehat, dan jangan saling menjatuhkan dengan cara-cara batil, yang membuat pihak lain merasa terzhalimi.
Semoga kita semua bisa mendapatkan rezeki yang penuh berkah, amiin. (*)
Label:
ES artikel campur
Langganan:
Postingan (Atom)










